Perdebatan di media sosial mengenai kaitan antara GERD dan serangan jantung menjadi potret nyata fenomena matinya kepakaran (the death of expertise) di Indonesia. Seorang warganet bersikeras menolak penjelasan medis dari dokter spesialis jantung, memicu diskusi luas tentang bagaimana otoritas keilmuan kini sering kali dikesampingkan demi opini pribadi yang belum teruji secara ilmiah.
Memahami Istilah Matinya Kepakaran
Istilah matinya kepakaran dipopulerkan oleh Tom Nichols untuk menggambarkan situasi di mana otoritas keilmuan tidak lagi dipercaya karena setiap orang merasa memiliki tingkat pengetahuan yang setara. Demokratisasi informasi melalui internet sering kali disalahartikan sebagai demokratisasi kompetensi. Dalam konteks ini, kepakaran tidak lagi dilihat sebagai hasil dari proses panjang pendidikan formal dan verifikasi ilmiah, melainkan sekadar satu opini di antara opini lainnya.
Dunning-Kruger Effect dan Ilusi Pengetahuan
Fenomena ini berkaitan erat dengan Dunning-Kruger Effect, yaitu bias kognitif di mana individu dengan pengetahuan terbatas justru cenderung melebih-lebihkan pemahamannya. Ketidaktahuan membuat seseorang tidak menyadari sejauh apa batasan pengetahuannya. Sebaliknya, mereka yang benar-benar mendalami suatu bidang justru lebih berhati-hati karena menyadari kompleksitas persoalan, namun kehati-hatian ini kerap disalahartikan sebagai keraguan oleh publik.
Mengapa Kepakaran Tetap Penting?
Kepakaran bukan sekadar soal lebih tahu, melainkan soal cara mengetahui yang sistematis. Pakar dilatih untuk membedakan antara korelasi dan kausalitas, serta antara bukti anekdot dan data sistematis. Mereka juga terikat pada mekanisme koreksi seperti berikut:
- Peer review atau tinjauan sejawat.
- Standar etik profesi yang ketat.
- Akuntabilitas profesional terhadap publik.
Ketika seorang ahli memberikan penjelasan, pernyataan tersebut lahir dari akumulasi riset dan konsensus ilmiah yang teruji, bukan sekadar intuisi pribadi.
Membangun Dialog Tanpa Sikap Elitis
Antitesis dari matinya kepakaran bukanlah kembalinya sikap otoriter, melainkan penataan dialog yang sehat antara pakar dan publik. Pakar diharapkan tidak bersikap arogan atau meremehkan pertanyaan awam, karena kepakaran yang kehilangan empati dapat mempercepat erosi kepercayaan publik. Di sisi lain, publik berhak bertanya dan berbagi pengalaman personal sebagai titik awal diskusi, namun tetap harus menghormati batasan klaim keilmuan.
Menjaga Akal Sehat Kolektif
Di era kelebihan informasi, kepakaran merupakan salah satu pilar akal sehat kolektif. Tantangan saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan menapis data tanpa mengabaikan integritas ilmiah. Jika ruang diskursus dikelola dengan saling menghormati, kepakaran akan menemukan bentuk barunya yang otoritatif tanpa harus menjadi arogan, serta terbuka tanpa kehilangan pijakan ilmiahnya.
