Menjelajahi Potensi Buah Tengkawang: Bisakah Gantikan Minyak Sawit dan Selamatkan Hutan Indonesia?
Sebuah unggahan di media sosial Instagram pada Selasa, 13 Januari 2026, menyoroti buah tengkawang sebagai alternatif potensial pengganti minyak sawit yang diklaim tidak merusak hutan. Tanaman ini disebut mampu memproduksi minyak nabati serupa sawit, namun dengan sistem penanaman yang lebih lestari.
Pohon sawit dikenal luas sebagai penghasil minyak, namun sistem penanamannya yang monokultur berpotensi mengurangi keanekaragaman hayati dan merusak ekosistem hutan, menjadikannya rentan terhadap erosi dan banjir. Lantas, benarkah buah tengkawang dapat menjadi solusi ramah lingkungan?
Potensi Tengkawang sebagai Alternatif Minyak Sawit
Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sigit Sunarta, membenarkan bahwa buah tengkawang berpotensi menggantikan minyak goreng dari sawit. “Ya, memang buah tengkawang yang berasal dari tanaman famili dipterocarpaceae menghasilkan minyak nabati yang berpotensi menggantikan minyak goreng dari sawit,” ungkap Sigit kepada Kompas.com pada Senin, 2 Februari 2026.
Sigit menjelaskan, terdapat perbedaan kandungan asam lemak utama antara kedua jenis minyak tersebut. Minyak sawit didominasi asam palmitat dan asam oleat, sementara minyak tengkawang kaya akan asam stearat dan asam oleat. Meskipun demikian, turunan dari kedua minyak nabati ini sama-sama dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk bahan pangan dan kosmetik. “Kandungan asam lemak yang didapat dari buah tengkawang pun juga bermanfaat baik bagi tubuh,” tambahnya.
Keunggulan dan Tantangan Budidaya Tengkawang
Buah tengkawang berasal dari pohon shorea atau meranti, yang merupakan famili dipterocarpaceae. Keunggulan utama tanaman ini adalah kemampuannya tumbuh dalam hutan campuran. “Yang membedakan adalah bahwa shorea itu tanaman berkayu, bisa tumbuh mix atau campur dengan tanaman lain, sehingga bisa membentuk hutan campuran yang menghasilkan benefit atau fungsi yang beraneka ragam layaknya sebuah hutan,” jelas Sigit.
Namun, Sigit mengakui bahwa produktivitas buah tengkawang masih jauh di bawah sawit. Hingga saat ini, belum ada Hutan Tanaman Industri (HTI) atau Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang secara khusus menanam shorea atau meranti, sehingga produksi masih mengandalkan hutan alam. “Masih menjadi keunggulan sawit dalam produktivitas per hektar yang sangat tinggi, yang sampai saat ini belum bisa dilampaui oleh tengkawang,” ujarnya.
Untuk meningkatkan daya saing, Sigit menyarankan adanya pemuliaan terhadap tanaman meranti, khususnya untuk tujuan menghasilkan buah. “Barangkali produktivitasnya bisa lebih tinggi dan bisa dihadap-hadapkan atau berkompetisi dengan sawit,” harapnya.
Perbedaan Ekologis Hutan Alam dan Kebun Sawit
Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Fakultas Kehutanan UGM, Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa lahan hijau tanaman sawit tidak sama dengan hijaunya hutan. “Meski sawit sering diklaim tetap membuat lahan hijau, tapi sesungguhnya sama sekali berbeda dengan hijaunya hutan,” ujar Hatma dalam wawancara dengan Kompas.com pada Sabtu, 6 Desember 2025.
Dari sudut pandang ekologi dan hidrologi, kebun sawit tidak dapat menggantikan peran hutan alam. Struktur vegetasi hutan tropis jauh lebih kompleks, baik secara vertikal maupun horizontal, dibandingkan kebun sawit yang homogen. Di hutan alam, hujan tertahan oleh tajuk pohon berlapis dan serasah tebal, memungkinkan air meresap dengan baik, mengurangi limpasan, dan mengendalikan erosi.
Sebaliknya, kebun sawit tidak memiliki kanopi bawah dan serasah tebal. Ditambah pemadatan tanah akibat alat berat, infiltrasi air menurun drastis. “Hujan lebat jelas akan menghasilkan limpasan dan erosi yang besar,” pungkas Hatma, menyoroti risiko lingkungan yang lebih tinggi pada perkebunan sawit.
Informasi mengenai potensi buah tengkawang sebagai alternatif minyak sawit dan perbandingan ekologisnya disampaikan melalui pernyataan resmi para pakar dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.