Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pengendalian nilai tukar rupiah akan lebih mudah dilakukan selama fondasi ekonomi nasional berada dalam kondisi yang baik. Pernyataan ini disampaikan Purbaya saat menanggapi pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.000 pada Senin (9/3/2026).
Purbaya: Fondasi Ekonomi Kuat Kunci Stabilitas Rupiah
Purbaya menegaskan pentingnya fondasi ekonomi yang kokoh sebagai prasyarat utama dalam menjaga stabilitas mata uang. “Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan,” ujar Purbaya di Istana, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Sinergi Pemerintah dan Bank Indonesia Jaga Nilai Tukar
Saat ditanya mengenai strategi pemerintah untuk menekan fluktuasi rupiah, Purbaya menyoroti kekompakan antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Menurutnya, sinergi ini menjadi kunci dalam menghadapi gejolak pasar global.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi bagus, uang di sistem cukup, dan BI mungkin monitor keadaan nilai tukar seperti apa. Jadi, kerja sama yang enak antara pemerintah dengan BI perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” jelas Purbaya. Ia menambahkan, “Dan kalau kompak seperti ini, enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia.”
Bantah Isu Resesi, Purbaya Tegaskan Ekonomi Masih Ekspansi
Sebelumnya, nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sama-sama mengalami tekanan pada perdagangan Senin (9/3/2026). Purbaya menilai pelemahan ini tidak lepas dari sentimen negatif yang muncul setelah sebagian ekonom menyampaikan pandangan bahwa ekonomi Indonesia sedang menuju resesi.
“Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah resesi menuju 1998 lagi, daya beli sudah hancur,” kata Purbaya usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Tanah Abang pada Senin (9/3/2026).
Menkeu Purbaya dengan tegas membantah kekhawatiran tersebut. Ia menyatakan bahwa kondisi ekonomi nasional saat ini tidak seperti yang dikhawatirkan, melainkan masih berada dalam fase ekspansi. Pemerintah, lanjutnya, terus berupaya keras menjaga daya beli masyarakat agar tetap kuat.
“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian. Jangankan krisis, resesi saja belum. Bahkan perlambatan juga belum, kita masih ekspansi dan masih akselerasi,” pungkasnya.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang dirilis pada Selasa, 10 Maret 2026.
