Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) belum akan diubah menyusul fluktuasi harga minyak dunia. Ia menegaskan, APBN masih cukup kuat menahan kenaikan harga minyak yang sempat menyentuh 100 dollar AS per barel pasca-serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Pernyataan ini disampaikan Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).
Stabilitas APBN di Tengah Gejolak Harga Minyak
Purbaya menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak yang terjadi baru berlangsung beberapa hari. “Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun 70 asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saja,” ujar Purbaya. Ia menambahkan, kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah anggaran negara. “Jadi belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi kita masih bisa absorb,” imbuhnya.
Ia menekankan bahwa perubahan alokasi anggaran dalam APBN tidak dapat dilakukan sembarangan. Diperlukan analisis mendalam untuk menentukan durasi kenaikan dan penurunan harga minyak. “Jadi kita lihat pastikan, betul enggak naik, betul enggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik. Ya, sudah kita bisa antisipasi naik terus. Ini kan enggak, naik, tiba-tiba turun lagi,” kata Purbaya.
Purbaya juga mengingatkan agar tidak terburu-buru mengubah anggaran tanpa analisis yang tepat, karena hal itu dapat menyebabkan pemerintah harus mengubah anggaran kembali jika kondisi normal. “Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah lagi. Repot kan. Jadi, menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons gerakan saham,” jelasnya.
Latar Belakang Konflik dan Dampaknya
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama tekanan pada harga minyak dunia dan kenaikan nilai tukar mata uang terhadap dollar AS. Gejolak ini sempat mendorong harga minyak dunia menembus di atas 100 dollar AS per barel sejak Minggu (8/3/2026). Sementara itu, nilai tukar rupiah juga sempat menembus level Rp 17.000 per dollar AS pada awal perdagangan Senin (9/3/2026).
Konflik bermula ketika AS dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat, menyusul kebuntuan pembicaraan nuklir di Jenewa, Swiss. Israel menjadi pihak pertama yang mengonfirmasi serangan tersebut, diikuti pengumuman resmi dari Presiden AS Donald Trump bahwa AS bergabung menyerang Iran.
Iran membalas serangan tersebut dengan menembakkan sejumlah misil ke pangkalan udara AS di Qatar (Al Udeid), Kuwait (Al-Salem), Uni Emirat Arab (Al-Dhafra), dan Markas Armada Kelima AS di Bahrain. Iran juga menutup Selat Hormuz, jalur ekspor minyak vital yang menghubungkan produsen minyak utama Teluk dengan Laut Arab, dan mengancam akan menembak kapal yang melintas.
Namun, setelah kenaikan tajam, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perang antara AS dan Iran akan segera berakhir. Pernyataan ini diharapkan dapat meredakan tekanan pada harga energi dunia.
Informasi mengenai stabilitas APBN dan respons pemerintah terhadap gejolak harga minyak ini disampaikan melalui pernyataan resmi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Selasa (10/3/2026).
