Otomatisasi pekerjaan akibat kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan terjadi secara masif dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan. Peringatan ini menyoroti kerentanan berbagai profesi formal, mulai dari pengacara hingga akuntan, yang kini mulai tergeser oleh efisiensi teknologi digital yang berkembang pesat.
Prediksi Otomatisasi Pekerjaan Profesional
CEO divisi AI Microsoft, Mustafa Suleyman, mengungkapkan bahwa kemampuan AI saat ini telah mendekati level manusia dalam menyelesaikan tugas-tugas profesional. Menurutnya, perubahan signifikan dalam hubungan manusia dengan teknologi telah terjadi secara drastis hanya dalam enam bulan terakhir.
Suleyman menyebutkan sejumlah profesi yang masuk dalam kategori paling rentan terhadap otomatisasi, antara lain:
- Pengacara
- Akuntan
- Manajer Proyek
- Tenaga Pemasaran
“Saya pikir kita akan mencapai kinerja setara manusia untuk sebagian besar, jika tidak semua, tugas profesional,” ujar Suleyman dalam wawancaranya dengan Financial Times.
Gelombang PHK di Industri Teknologi Global
Dampak nyata dari integrasi AI mulai terlihat pada kebijakan internal perusahaan besar. Microsoft, yang telah menggelontorkan dana sebesar 80 miliar dollar AS untuk infrastruktur AI, mencatat pengurangan tenaga kerja yang signifikan sepanjang tahun 2025.
Perusahaan tersebut memberhentikan sekitar 6.000 pegawai pada Mei 2025, diikuti pemangkasan 9.000 karyawan lainnya dua bulan kemudian. CEO Microsoft, Satya Nadella, menyatakan bahwa AI kini berkontribusi pada 20 hingga 30 persen tugas pengkodean perangkat lunak di perusahaan tersebut.
Langkah serupa juga diambil oleh raksasa teknologi lainnya:
- Meta: Memangkas 5 persen karyawan atau sekitar 3.600 orang pada Januari 2025.
- Amazon: Berencana mengurangi hingga 30.000 posisi kerja untuk efisiensi peran tertentu.
Laporan Ketenagakerjaan dan Peran AI
Data dari konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan adanya 1,2 juta pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang tahun 2025, meningkat 58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2020 dan mendekati kondisi krisis keuangan global 2008.
Adopsi AI yang cepat menjadi faktor utama di balik tren ini, dengan kontribusi terhadap rencana PHK atas 54.836 posisi. Sektor teknologi swasta menjadi yang paling terdampak dengan pengurangan sekitar 154.000 posisi kerja, naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ancaman Krisis Ekonomi dan Identitas Pekerja
Salman Khan, CEO Khan Academy, menilai revolusi AI berpotensi memicu krisis identitas bagi pekerja kantoran (white collar). Ia memperingatkan bahwa penyusutan lapangan kerja di sektor ini, meski hanya sebesar 10 persen, dapat berdampak layaknya depresi ekonomi bagi pasar tenaga kerja global.
“Identitas mereka melekat pada pekerjaan itu. Sekarang, tiba-tiba, terjadi pergeseran besar di pasar kerja,” kata Khan. Ia menekankan pentingnya menyiapkan jalur transisi bagi pekerja agar dapat beralih ke profesi lain yang lebih stabil sebelum dampak otomatisasi semakin meluas.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi jajaran eksekutif teknologi dan laporan tahunan Challenger, Gray & Christmas yang dirilis sepanjang periode 2025 hingga awal 2026.
