Mikel Arteta, manajer Arsenal, memberikan jawaban tegas usai mendapat sorotan dan kritik dari sejumlah manajer rival terkait efektivitas gol yang sering diciptakan timnya dari skema sepak pojok. Kritik ini mencuat setelah Arsenal mencetak dua gol dari bola mati saat menghadapi Chelsea di Stadion Emirates pada Minggu, 1 Maret 2026, yang sekaligus menjadi gol kesembilan mereka dari tendangan sudut musim ini.
Kritik Manajer Rival dan Sorotan Aturan
Beberapa pelatih yang pernah menjadi ‘korban’ keganasan skema bola mati Arsenal melontarkan komentar pedas. David Moyes, pelatih Everton, menyebut strategi Arteta sebagai pelopor penggunaan “seni gelap” dalam sepak bola.
Sementara itu, pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, menyerukan perlunya aturan yang lebih ketat terkait bola mati. Hurzeler secara spesifik mengkritik Arsenal karena dianggap mengulur waktu, dengan menyatakan bahwa The Gunners terkadang menunggu “lebih dari satu menit” untuk mengambil tendangan sudut.
Michael Carrick, pelatih interim Manchester United, juga menyoroti strategi Arteta di situasi sepak pojok yang dianggapnya sudah ‘keterlaluan’. Carrick mengaitkan hal ini dengan aturan yang berlaku di kotak penalti. “Belum lama ini kita diberitahu bahwa Anda tidak boleh menyentuh siapa pun di dalam kotak penalti dan itu akan diberantas,” kata Carrick dalam konferensi persnya, Selasa, 3 Maret 2026.
Carrick menambahkan, “Hal itu telah merambah. Keberhasilan bola mati, terutama tendangan sudut, mungkin karena kemampuannya untuk menempatkan banyak pemain berdekatan, telah membuat lebih banyak tim melakukannya karena tingkat keberhasilannya sangat tinggi.” Ia juga berpendapat bahwa dalam permainan sepak bola, keseimbangan yang tepat belum ditemukan.
Pembelaan Mikel Arteta dan Evolusi Sepak Bola
Mikel Arteta tidak ambil pusing dengan komentar para rivalnya dan menilai hal tersebut sebagai bagian dari pekerjaan. Ia mengakui bahwa jumlah gol Arsenal dari situasi normal tidak terlalu banyak, dan timnya juga beberapa kali kebobolan dari bola mati.
“Saya kecewa karena kami belum mencetak lebih banyak gol dan juga kebobolan [dari bola mati],” kata Arteta dalam konferensi pers. “Kami ingin menjadi tim terbaik dan paling dominan dalam setiap aspek permainan. Itulah arah dan tujuan tim ini.”
Arteta menjelaskan bahwa peningkatan ancaman dari bola mati disebabkan oleh sepak bola yang “berkembang” dan menjadi “semakin sulit” dari perspektif taktik. “Tim-tim beradaptasi, tim-tim tahu setelah setiap rangkaian permainan apakah itu lemparan ke dalam, memulai kembali permainan, situasi lapangan terbuka setelah itu, mereka tahu persis apa yang harus mereka lakukan dan semuanya hampir man to man,” ujarnya.
“Jadi, ini tidak akan menjadi permainan yang berbeda, kecuali kita mengubah aturannya, karena evolusi permainan memang seperti itu,” tegas Arteta.
Dominasi Arsenal dalam Bola Mati
Mengutip laporan dari BBC, Arsenal unggul jauh dalam jumlah gol yang dicetak dari bola mati, termasuk penalti, dengan total 21 gol. Angka ini jauh melampaui Manchester United yang berada di posisi kedua dengan 15 gol.
Secara spesifik, 16 dari gol Arsenal musim ini, atau sebesar 27,6 persen, berasal dari tendangan sudut. Sementara itu, Tottenham Hotspur memuncaki daftar persentase gol dari tendangan sudut, dengan 13 dari 38 gol mereka atau total 34,2 persen berasal dari skema tersebut.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Mikel Arteta dalam konferensi pers pada Rabu, 04 Maret 2026.
