Tim NASA’s Chandra X-ray Observatory baru saja merilis citra komposit terbaru dari Nebula Cocoon, sebuah wilayah pembentukan bintang yang terletak di rasi bintang Cygnus. Citra ini menggabungkan data sinar-X berenergi tinggi dengan cahaya optik dan inframerah untuk menyingkap detail proses kelahiran bintang yang selama ini tersembunyi di balik awan debu tebal.
Profil Nebula Cocoon dan Sejarah Penemuannya
Nebula Cocoon, yang secara astronomis dikenal sebagai IC 5146 atau Collinder 470, berjarak sekitar 2.650 tahun cahaya dari Bumi. Objek kosmik ini memiliki bentang ukuran mencapai 15 tahun cahaya. Nebula ini pertama kali ditemukan oleh astronom Amerika Serikat, Edward Emerson Barnard, pada 11 Oktober 1893.
Objek ini diklasifikasikan sebagai nebula refleksi sekaligus emisi. Melalui teknologi modern, para astronom kini dapat mengamati aktivitas di dalamnya dengan jauh lebih mendalam dibandingkan saat pertama kali ditemukan lebih dari satu abad yang lalu.
Keunggulan Teknologi Sinar-X dalam Menembus Debu Kosmik
Penggunaan sinar-X menjadi krusial karena bintang-bintang muda sering kali lahir di wilayah yang padat akan gas dan debu. Partikel debu tersebut cenderung menghalangi cahaya tampak atau optik, sehingga banyak bintang baru yang tidak terdeteksi oleh teleskop biasa.
“Citra ini menunjukkan Nebula Cocoon sebagai awan bercahaya berbentuk hati, dengan latar belakang padat berupa bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya yang tersebar di seluruh Bima Sakti,” tulis para astronom Chandra dalam penjelasan resminya.
Bagian pusat nebula digambarkan memiliki nuansa warna merah, jingga, dan keemasan yang membentuk struktur menyerupai kepompong. Radiasi sinar-X memungkinkan para peneliti melihat bintang-bintang muda yang tampak sebagai titik putih atau kebiruan yang sangat terang di tengah kegelapan ruang angkasa.
Aktivitas Klaster Bintang Muda di Inti Nebula
Data dari Observatorium Chandra berhasil melacak keberadaan klaster bintang yang baru terbentuk dan sangat aktif di dekat inti nebula. Bintang-bintang pada fase awal ini diketahui memancarkan radiasi energi tinggi akibat aktivitas magnetik yang kuat.
Fenomena cahaya pada Nebula Cocoon dihasilkan melalui dua mekanisme utama:
- Emisi: Cahaya yang dipancarkan langsung oleh bintang-bintang muda di dalamnya.
- Refleksi: Cahaya bintang yang dipantulkan oleh partikel debu di lingkungan sekitarnya.
Kolaborasi Data Optik dan Inframerah
Untuk menghasilkan visualisasi yang komprehensif, tim peneliti juga mengintegrasikan data inframerah dari Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) milik NASA serta data optik dari astrofotografer. Data inframerah berperan penting dalam memetakan struktur debu dan mengidentifikasi wilayah yang masih aktif memproduksi bintang baru.
Integrasi berbagai jenis cahaya ini membantu para astronom memahami bagaimana bintang lahir dan berkembang dalam lingkungan kosmik yang kompleks. Nebula Cocoon berfungsi sebagai laboratorium alami untuk mempelajari peran debu dan gas sebagai bahan baku utama pembentukan benda langit.
