Berita

Nusron Wahid Jelaskan Sanad Ilmu dan Etika Kepemimpinan, Kaitkan dengan Kebijakan Pertanahan di UI

Advertisement

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN (ATR/BPN) Nusron Wahid menekankan pentingnya sanad keilmuan dan etika kepemimpinan sebagai pijakan utama dalam merumuskan kebijakan publik. Ia menyebut, sebagaimana ilmu membutuhkan rujukan yang jelas, kebijakan juga harus berdiri di atas data, regulasi, dan kerangka hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hal ini disampaikan Nusron saat mengisi Kajian Tarawih di Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia (UI), Depok, pada Senin (23/2) malam. Dalam kajian tersebut, Nusron yang merupakan alumni UI menjelaskan tradisi keilmuan Islam menempatkan sanad atau rantai sumber pengetahuan sebagai fondasi legitimasi kebenaran.

Sanad Ilmu sebagai Fondasi Kebijakan

Nusron Wahid memaparkan bahwa sanad merupakan bagian esensial dalam ajaran agama. “Ilmu itu harus ada sanadnya, karena kalau tidak ada sanadnya, itu nanti kita tersesat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (24/2/2026).

Ia mengutip Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim yang menyatakan bahwa sanad adalah bagian dari ajaran agama. Tanpa sanad, seseorang cenderung berbicara semaunya sendiri tanpa dasar yang kuat.

Menteri ATR/BPN ini kemudian menarik benang merah ke tata kelola pemerintahan. Menurutnya, jika sanad menjadi penjaga otoritas ilmu, maka dalam pemerintahan peran tersebut dijalankan oleh data, regulasi, dan dasar normatif. Tanpa pijakan yang teruji, keputusan publik berisiko berubah menjadi persepsi pribadi yang dibungkus kewenangan.

Etika Kepemimpinan dan Keadilan Sosial

Nusron juga mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar urusan teknis, melainkan juga soal moral. Ia menyebut manusia memiliki kecenderungan merasa paling benar, manipulatif, mementingkan diri sendiri, atau menekan pihak yang lemah.

Advertisement

Bila tidak dikendalikan, kebijakan yang lahir bisa menjauh dari rasa keadilan. Nusron mengutip doa Rasulullah SAW sebagai pengingat bagi pemegang amanah publik: “Ya Allah, siapa yang menjadi pemimpin dan ketika memimpin ia mempersulit hidup orang lain, maka persulitlah hidupnya, ya Allah. Sebaliknya, siapa yang memimpin dan ia mempermudah urusan rakyatnya, maka mudahkanlah hidupnya.”

Implementasi Kebijakan Pertanahan yang Berkeadilan

Dalam konteks tugasnya di Kementerian ATR/BPN, Nusron merujuk pada Surah Al-Hasyr ayat 7, “…kailā yakūna dūlatam bainal-agniyā’i minkum,” yang berarti agar kekayaan tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kebijakan pertanahan dan tata ruang dirumuskan dengan semangat memperkuat distribusi sumber daya agar lebih adil dan tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak.

“Kebijakan seperti penataan dan penertiban HGU, redistribusi tanah dan penataan ruang, diarahkan untuk mengurangi ketimpangan ekonomi struktural serta memperluas manfaat sosial bagi masyarakat,” tegas Ketua MUI Bidang Penanggulangan Bencana ini. Ia juga menyinggung kaidah ulama klasik bahwa keberlangsungan sebuah negara ditentukan oleh keadilannya, bukan oleh simbol atau identitas formalnya. “Karena itu, inti kepemimpinan adalah memastikan keadilan benar-benar hadir dalam kebijakan publik,” tutup Nusron.

Pesan untuk Generasi Muda

Di akhir kajian, Nusron mengajak mahasiswa memaknai kepemimpinan sebagai tanggung jawab moral jangka panjang. Ia menilai generasi muda perlu memadukan kompetensi profesional dengan integritas etis, agar kebijakan publik bukan hanya efektif secara teknokratis, tetapi juga berkeadilan sosial.

Informasi lengkap mengenai kajian ini disampaikan melalui keterangan tertulis dari Kementerian ATR/BPN yang dirilis pada Selasa (24/2/2026).

Advertisement