Angka pengangguran di kalangan anak muda Inggris menunjukkan tren mengkhawatirkan pada awal 2026. Data terbaru dari Office for National Statistics (ONS) mencatat sekitar 16,1 persen penduduk berusia 16 hingga 24 tahun kesulitan menemukan pekerjaan, jauh di atas angka pengangguran nasional 5,1 persen. Fenomena ini bahkan menghantam lulusan universitas terkemuka seperti Cambridge.
Realita Sulitnya Mencari Kerja bagi Lulusan Muda Inggris
Lucy Gabb, lulusan Universitas Cambridge Juli 2025, kini harus bekerja di sebuah kafe di London. Ia berjuang menembus industri penerbitan, namun menghadapi persaingan ketat di posisi tingkat pemula.
“Lowongan pekerjaan tingkat pemula sangat kompetitif dan mereka meminta pengalaman yang mustahil didapatkan sambil kuliah,” ungkap Lucy Gabb. Ia telah melamar lebih dari 50 lowongan, namun hanya satu yang berujung wawancara tatap muka.
“Semua teman saya hanya membicarakan soal pencarian kerja. Rasanya sangat menyedihkan ketika Anda belajar begitu lama dan tidak mendapatkan hasil apa pun,” tambahnya, menggambarkan frustrasi yang meluas di kalangan rekan-rekannya.
Alex Huke (21) dari Durham juga merasakan hal serupa. Sejak Oktober 2025, ia telah melamar 40 pekerjaan di berbagai bidang seperti perhotelan, ritel, dan perawatan, namun seringkali tanpa balasan. “Rasanya seperti mereka lebih bertujuan untuk memantau saya daripada membantu saya mencari pekerjaan,” keluhnya setelah ditawari pekerjaan di panti jompo.
AI dan Kebijakan Pemerintah Perparah Krisis Pekerjaan Pemula
Selain persaingan, kecerdasan buatan (AI) turut disebut sebagai penyebab pemutusan hubungan kerja dan kelangkaan posisi tingkat pemula. AI mampu mengambil alih tugas-tugas repetitif seperti memproses data, mengikuti instruksi rinci, serta menulis laporan dan komunikasi dasar.
“Khususnya bagi kaum muda, yang sudah berjuang untuk mendapatkan pengalaman kerja pertama mereka, AI dapat mengakibatkan kelangkaan posisi tingkat pemula,” jelas Danni Hewson, Kepala Analisis Keuangan di AJ Bell.
Pengusaha juga mengeluhkan kebijakan pemerintah, termasuk kenaikan upah minimum, yang meningkatkan biaya operasional bisnis. Hal ini mendorong perusahaan ritel dan perhotelan, yang biasanya menjadi pintu masuk bagi pekerja muda, untuk mengurangi rekrutmen atau jumlah karyawan.
Ironisnya, AI juga dimanfaatkan oleh pencari kerja untuk menulis lamaran, sementara tim perekrutan menggunakan AI untuk menyaring CV dan bahkan melakukan wawancara, menciptakan siklus yang kompleks.
Lulusan Pertanian hingga Bahasa Asing Tetap Kesulitan
Kesulitan mencari kerja tidak hanya dialami lulusan bidang umum. Terry Butler (22), lulusan pertanian, mengaku sulit mendapatkan pekerjaan di sektornya. “Mereka lebih memilih pengalaman daripada nilai bagus atau prestasi di perguruan tinggi pertanian,” ujarnya setelah mencoba melamar ke berbagai peternakan.
Olivia Diss dari Essex, lulusan bahasa Prancis dan Spanyol dari Manchester Metropolitan University, juga menghadapi penolakan berulang. Lamaran pekerjaannya di berbagai bidang, termasuk ritel, diabaikan atau ditolak.
“Saya merasa sangat patah semangat. Saya menghabiskan empat tahun berusaha keras untuk meraih gelar yang menurut saya sangat berharga,” aku Olivia, yang bahkan harus meminjam uang dari Universal Credit meskipun tinggal bersama orang tuanya.
Sadie Sharp, Kepala Eksekutif Platform Project, menganalogikan fenomena ini sebagai kasus “ayam dan telur”. “Karena lowongan pekerjaan tingkat pemula sangat sedikit, para kandidat benar-benar harus menonjol,” katanya. “Dan Anda tidak bisa menonjol jika Anda tidak memiliki apa pun di CV Anda.”
Pemerintah Inggris Berupaya Atasi Pengangguran Muda
Menanggapi krisis ini, Pemerintah Inggris telah menjanjikan Skema Jaminan Pemuda. Skema ini bertujuan untuk menciptakan ribuan program magang dan menjamin pekerjaan berbayar bagi warga berusia 18 hingga 21 tahun.
Jaminan ini berlaku bagi mereka yang telah berhenti sekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan NEET (Not in Education, Employment, or Training) selama 18 bulan.
Informasi lengkap mengenai isu pengangguran kaum muda di Inggris ini disampaikan melalui laporan Office for National Statistics (ONS) dan dilansir oleh BBC pada Februari 2026.
