Berita

Pahami Enam Lafal Niat Puasa Ramadan 2026: Panduan Lengkap dari Kitab Fikih dan Kemenag

Advertisement

Menjelang bulan suci Ramadan 2026, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri, termasuk memahami lafal niat puasa yang menjadi salah satu rukun ibadah ini. Membaca niat puasa Ramadan disunahkan saat sahur agar ibadah puasa dapat terlaksana dengan sempurna.

Enam Pilihan Lafal Niat Puasa Ramadan Menurut Kitab Fikih

Mengutip dari situs NU Online, terdapat enam pilihan lafal niat puasa Ramadan yang merujuk pada sejumlah kitab fikih terkemuka. Pilihan-pilihan ini memberikan fleksibilitas bagi umat Islam dalam melafalkan niat.

Niat dari Kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu

Berikut adalah lafal niat puasa Ramadan yang dikutip dari Kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta’ālā

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Niat dari Kitab Hasyiyatul Jamal dan Irsyadul Anam

Lafal niat puasa Ramadan ini merujuk pada Kitab Hasyiyatul Jamal dan Kitab Irsyadul Anam:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta’ālā

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Dua Lafal Niat dalam Kitab Asnal Mathalib

Dalam Kitab Asnal Mathalib, terdapat dua lafal niat puasa Ramadan yang dapat digunakan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanata lillāhi ta’ālā

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Lafal kedua dari kitab yang sama adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هٰذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ

Advertisement

Nawaitu shaumal ghadi min hādzihis sanati ‘an fardhi Ramadhāna

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan.”

Niat Ringkas dari Kitab I’anatut Thalibin

Kitab I’anatut Thalibin menawarkan lafal niat puasa yang lebih ringkas:

نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ

Nawaitu shauma Ramadhāna

Artinya: “Aku berniat puasa bulan Ramadhan.”

Pilihan lainnya dari kitab ini adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ

Nawaitu shauma ghadin min/’an Ramadhāna

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.”

Ketentuan Waktu Imsak dan Batas Memulai Puasa

Selain lafal niat, pemahaman mengenai waktu imsak juga penting dalam menjalankan ibadah puasa. Mengutip dari situs Kementerian Agama (Kemenag), waktu imsak ditetapkan 10 menit sebelum masuk waktu subuh.

Para ulama sepakat bahwa batas waktu memulai puasa adalah tepat pada momen terbitnya fajar shadiq atau waktu subuh. Meskipun demikian, sebagian ulama berpandangan bahwa umat Islam dilarang makan bila waktu subuh sudah dekat, karena sudah masuk wilayah cegahan, meski ada juga ulama yang membolehkan makan di waktu syak.

Waktu imsak di Indonesia tidak dimaksudkan untuk mengubah waktu puasa dengan memajukannya dari batas syariat. Penetapan imsak ini merupakan ikhtiar untuk melestarikan sunah sekaligus sebagai katup pengaman atau tindakan hati-hati agar kaum muslimin tidak terperosok ke dalam batas larangan makan dan minum saat puasa.

Informasi lengkap mengenai lafal niat puasa Ramadan dan ketentuan waktu imsak ini disampaikan melalui panduan resmi yang dirilis oleh NU Online dan Kementerian Agama.

Advertisement