Penetrasi jaringan 5G di Indonesia masih berada di kisaran 10 persen, jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia yang telah mencapai sekitar 50 persen. Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Ian Yosef Matheus Edward, mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan adopsi 5G nasional belum optimal.
Tantangan Utama Adopsi 5G di Indonesia
Menurut Ian Yosef, keterbatasan spektrum frekuensi 5G menjadi tantangan utama yang dihadapi Indonesia. Selain itu, harga perangkat yang belum sepenuhnya terjangkau oleh masyarakat serta model bisnis dan use case yang masih terus berkembang turut memengaruhi laju adopsi teknologi ini.
Untuk menghadirkan layanan 5G yang optimal, Ian menjelaskan bahwa idealnya satu operator memiliki alokasi spektrum sekitar 100 MHz. “Namun dengan 50 MHz yang kontinu di pita TDD, layanan 5G sudah dapat berjalan dengan performa yang cukup baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Saat ini, sebagian operator seluler di Indonesia masih mengoptimalkan spektrum existing yang juga digunakan untuk jaringan 4G. Kondisi tersebut menyebabkan implementasi 5G berjalan berdampingan dengan teknologi generasi sebelumnya.
Kebijakan Spektrum dan Manfaat Ekonomi Digital
Ian Yosef menilai bahwa ke depan, kebijakan pengelolaan spektrum perlu dirancang tidak hanya untuk memaksimalkan penerimaan negara. Kebijakan tersebut juga harus mendorong investasi jaringan yang berkelanjutan serta pemerataan akses telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia, khususnya untuk adopsi teknologi baru seperti 5G.
“Jika spektrum dikelola dengan struktur biaya yang rasional dan diberikan kepada operator yang memiliki komitmen membangun secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat melalui layanan yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi digital yang lebih kuat,” kata Ian. Ia menambahkan bahwa jika ekonomi digital tumbuh, negara berpotensi mendapatkan tambahan pajak.
Performa Jaringan 5G Operator di Indonesia
Meskipun menghadapi keterbatasan spektrum, seluruh operator seluler di Indonesia, seperti Indosat, XL Smart, dan Telkomsel, telah menggelar jaringan 5G. Lembaga independen OpenSignal dalam laporan Mobile Network Experience edisi Desember 2025 mencatat adanya perbedaan performa layanan 5G antaroperator di Indonesia.
Dalam sejumlah indikator penting seperti pengalaman video 5G, kecepatan unduh dan unggah 5G, serta konsistensi kualitas jaringan, Telkomsel tercatat memperoleh nilai tertinggi dibandingkan operator lainnya. Pada kategori Coverage Experience dan Availability Experience 5G, Telkomsel juga berada pada posisi teratas.
Faktor Penentu Kualitas 5G
Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas jaringan 5G tidak hanya ditentukan oleh ekspansi jaringan, tetapi juga oleh faktor teknis yang lebih mendasar. Ian Yosef menjelaskan, performa 5G sangat dipengaruhi oleh kepemilikan spektrum frekuensi yang memadai dan berkelanjutan.
Dalam teknologi seluler, lebar dan kontinuitas spektrum menjadi kunci utama kualitas layanan. Operator dengan spektrum yang lebih lebar dan tersusun secara kontinu akan lebih optimal dalam menghadirkan kecepatan serta stabilitas jaringan 5G. Selain spektrum, dukungan infrastruktur backbone yang kuat dan terintegrasi juga berkontribusi terhadap konsistensi pengalaman pengguna. Kombinasi faktor-faktor tersebut, menurut Ian, umumnya tercermin dalam hasil pengukuran lembaga independen seperti OpenSignal.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui keterangan tertulis Dosen STEI ITB, Ian Yosef Matheus Edward, yang dirilis pada Sabtu, 21 Februari 2026.
