Berita

Pakar Ungkap Jenis Genteng Paling Cocok untuk Iklim Tropis Indonesia, Soroti Pentingnya Material Lokal

Genteng menjadi material atap bangunan yang paling banyak digunakan di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat, sebanyak 57,93 persen atau setara 40.913.287 unit bangunan rumah tangga di Indonesia telah mengaplikasikan genteng sebagai penutup atap.

Material genteng sendiri bervariasi, mulai dari kayu, tanah liat, aspal, plastik, logam, kaca, hingga asbes. Namun, jenis genteng mana yang paling sesuai untuk hunian di Indonesia yang beriklim tropis?

Rekomendasi Pakar Teknik Sipil UNS untuk Iklim Tropis

Dosen Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Purwanto, mengungkapkan bahwa genteng tanah liat dan genteng keramik dinilai paling cocok untuk hunian di Indonesia. “Untuk Indonesia yang beriklim tropis, sependek pengetahuan saya, genteng tanah liat dan atau genteng keramik yang cocok,” ujar Purwanto, Selasa (11/11/2025).

Menurut Purwanto, kedua jenis genteng ini efektif meredam panas, sehingga membuat bangunan di bawahnya terasa lebih sejuk. Selain itu, pemasangan genteng tanah liat dan keramik juga memungkinkan adanya celah untuk sirkulasi udara panas, yang menguntungkan mengingat sifat udara panas yang cenderung berada di atas.

Dari segi keawetan, genteng keramik memiliki keunggulan dibandingkan genteng tanah liat, meskipun harganya cenderung lebih mahal tergantung model dan merek. Genteng keramik juga kerap dipilih untuk ruangan tertentu yang membutuhkan pencahayaan matahari lebih.

Perspektif Arsitek: Keberagaman Material Atap dan Nilai Budaya

Arsitek sekaligus pendiri Green Building Council Indonesia, Ariko Andikabina, turut menyampaikan pandangannya. Ia setuju bahwa genteng berbahan dasar tanah liat lebih unggul karena relatif lebih dingin dibandingkan genteng berbahan dasar pasir atau semen.

Namun, Ariko menegaskan bahwa tidak semua bangunan di Indonesia cocok menggunakan genteng sebagai atap. Mengingat Indonesia adalah negara dengan keberagaman suku bangsa, penyeragaman material atap dengan hanya satu jenis genteng dianggap kurang bijak.

“Tidak seluruh bangunan di Indonesia baik bangunan tradisional maupun bangunan modern kita yang menggunakan genteng,” kata Ariko, Rabu (4/4/2026).

Ia mencontohkan, bangunan tradisional di Indonesia banyak menggunakan material lokal yang mencerminkan pengetahuan empiris setempat. Candi di Jawa Tengah dominan menggunakan batu kali, sementara candi di Jawa Timur lebih banyak menggunakan bata. Di daerah lain, bambu, kayu (sirap), ilalang, atau ijuk digunakan sebagai material atap karena ketersediaan lokal.

Selain faktor geografis dan ketersediaan material, nilai sosial budaya juga memengaruhi pemilihan atap. Ariko mencontohkan masyarakat di Sumatera Barat yang menghindari penggunaan material dari tanah sebagai atap, karena bertentangan dengan nilai agar selama hidup tidak “berkalang” atau berada di bawah tanah, yang diasosiasikan dengan kondisi setelah meninggal.

“Dengan ragam kondisi, baik geografis, ketersediaan material secara lokal, maupun nilai budaya yang beragam, menyederhanakan persoalan dengan penyeragaman gentengisasi di seluruh Indonesia akan menjadi kebijakan yang kurang bijak,” tegas Ariko.

Informasi lengkap mengenai jenis genteng yang cocok untuk atap bangunan di Indonesia ini disampaikan melalui wawancara dengan pakar terkait pada November 2025 dan April 2026.