Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi pusat perawatan pesawat atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) jet bisnis di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi yang pesat serta meningkatnya jumlah individu kaya di kawasan ini menjadi faktor utama yang mendorong kebutuhan layanan pendukung penerbangan tersebut.
Pertumbuhan Industri Penerbangan Bisnis di Asia Tenggara
General Manager ExecuJet Haite, Paul Degrosseilliers, menjelaskan bahwa Asia Tenggara kini menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri jet bisnis global. Fenomena ini didorong oleh demografi yang kuat serta peningkatan investasi lintas negara yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Paul, peningkatan jumlah individu dengan kekayaan bersih tinggi (high net worth individuals) dan ekspansi perusahaan multinasional menciptakan kebutuhan mobilitas yang lebih fleksibel dan efisien. “Banyak orang-orang kaya di Asia,” ujar Paul dalam sebuah wawancara resmi terkait perkembangan industri penerbangan.
Kondisi Pasar Jet Bisnis di Indonesia
Dalam konteks domestik, Paul menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 60 jet bisnis yang berbasis di Indonesia. Namun, angka tersebut diyakini bisa lebih besar jika memperhitungkan pesawat milik perusahaan atau individu asal Indonesia yang saat ini masih berbasis di Singapura.
Selain itu, terdapat tren di mana sejumlah perusahaan besar asal China mulai mengoperasikan jet bisnis mereka di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan bisnis di Tanah Air yang dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan pasar domestik China yang sudah mulai matang. Kondisi ini memperbesar kebutuhan akan layanan perawatan pesawat di dalam negeri.
Tantangan Persaingan dengan Singapura
Meskipun potensinya besar, Indonesia masih harus menghadapi tantangan dari Singapura yang telah membangun reputasi sebagai hub MRO regional selama lebih dari tiga dekade. Singapura memiliki ekosistem yang matang, didukung oleh investasi besar dari produsen pesawat (OEM) serta infrastruktur dan teknisi bersertifikasi internasional.
Paul mengakui bahwa kedekatan geografis menjadi tantangan utama, karena banyak operator jet bisnis masih memilih Singapura untuk melakukan perawatan rutin. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi ini justru menunjukkan adanya potensi ekonomi besar yang belum sepenuhnya digarap secara maksimal oleh Indonesia.
Proyeksi Fasilitas MRO Domestik
Dengan basis sekitar 60 hingga 75 jet yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia, pasar domestik dinilai sudah cukup kuat untuk mendukung satu atau dua fasilitas MRO khusus jet bisnis berskala menengah. Paul memprediksi perkembangan fasilitas ini dapat terwujud dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan.
Optimisme ini didasari pada kebutuhan akan heavy maintenance dan inspeksi berkala yang terus meningkat seiring bertambahnya populasi pesawat. Tanpa penguatan kapasitas domestik, potensi ekonomi dari pertumbuhan industri jet bisnis ini dikhawatirkan akan terus mengalir ke negara tetangga.
Informasi lengkap mengenai analisis peluang industri penerbangan ini disampaikan berdasarkan pernyataan resmi Paul Degrosseilliers dalam tinjauan prospek ekonomi penerbangan Asia Tenggara.
