Pemerintah Dorong Penggunaan Genteng untuk Atap Hunian Tropis, Simak Kelebihan dan Kekurangannya
Pemerintah Indonesia secara aktif menyerukan gagasan “gentengisasi” sebagai standar atap bangunan di seluruh negeri. Konsep ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hunian, memperindah lingkungan, serta memperkuat citra Indonesia di mata wisatawan. Genteng dinilai lebih cocok untuk iklim tropis Indonesia, berbeda dengan seng yang cenderung panas dan mudah berkarat.
Pemerintah Dorong ‘Gentengisasi’ untuk Kualitas Hunian
Inisiatif “gentengisasi” ini muncul sebagai upaya pemerintah untuk mengatasi penggunaan material atap yang kurang ideal di Indonesia. Meskipun seng masih banyak digunakan, material tersebut dinilai kurang sesuai dengan karakteristik iklim tropis yang dominan di Tanah Air.
Genteng Ideal untuk Iklim Tropis, Kata Pakar UNS
Dosen Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Purwanto, menegaskan bahwa material genteng sangat cocok untuk bangunan di Indonesia. “Untuk Indonesia yang beriklim tropis, sependek pengetahuan saya, genteng tanah liat dan atau genteng keramik yang cocok karena materialnya sendiri dapat meredam panas atau tidak meneruskan panas,” ujar Purwanto, saat dikonfirmasi Kompas.com pada Selasa (11/11/2025).
Menurut Purwanto, pemasangan genteng juga memerlukan celah udara yang berfungsi sebagai sirkulasi. Udara panas secara alami akan berada di bagian atas, sementara udara dingin di bawah, membantu menjaga suhu ruangan.
Genteng adalah material penutup atap berbentuk segi empat yang umumnya terbuat dari kayu, tanah liat, aspal, plastik, hingga logam. Genteng tanah liat, yang paling umum, dibuat dengan dicetak dan dibakar sehingga memiliki kekuatan yang baik. Namun, seiring waktu, permukaannya dapat ditumbuhi lumut, mengubah warnanya menjadi kemerahan atau kehijauan.
Kelebihan dan Kekurangan Genteng sebagai Pilihan Atap
Berikut adalah kelebihan dan kekurangan genteng sebagai material atap rumah:
- Kelebihan:
- Harganya relatif murah.
- Mempunyai berat yang ringan sehingga mengurangi beban atap.
- Memiliki kuat tekan sedang sampai tinggi sehingga dapat diinjak.
- Kekurangan:
- Memerlukan ketelitian saat pemasangan reng untuk mencegah kebocoran.
- Mudah berlumut atau berjamur jika tidak dilapisi cat atau glasur.
- Menggunakan pola pemasangan zig-zag dengan sistem sambungan interlock.
Asbes: Murah dan Mudah, Namun Berisiko Kesehatan
Selain genteng, asbes juga sering digunakan sebagai penutup atap. Material ini merupakan gabungan enam mineral silikat alam yang populer karena harganya murah, pemasangan mudah, dan bobotnya ringan sehingga tidak memerlukan konstruksi khusus.
Namun, penggunaan asbes dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, termasuk risiko kanker paru-paru. Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa serat asbes yang berbentuk partikel mudah lepas dan beterbangan, dan jika terhirup, dapat menyebabkan penyakit serius.
- Kelebihan Asbes:
- Dijual di pasaran dengan harga yang lebih murah.
- Pemasangan relatif lebih mudah.
- Tidak membutuhkan reng dan usuk.
- Tidak mudah bocor karena minim sambungan.
- Kekurangan Asbes:
- Dapat menyebabkan penyakit kanker paru-paru akibat seratnya yang mudah terhirup.
Seng: Ringan dan Ekonomis, Tapi Perhatikan Kekurangannya
Seng, material atap lainnya, terbuat dari lembaran tipis baja yang dilapisi seng atau galvanis secara elektrolisis. Material ini tahan karat selama lapisan pelindungnya masih utuh. Namun, jika lapisan tersebut hilang, atap seng akan mudah berkarat dan bocor.
- Kelebihan Seng:
- Diproduksi dalam lembaran tipis sehingga ringan, mudah digunakan, dan dipasang.
- Mudah didapat di pasaran.
- Lebih tahan terhadap korosi jika dicat terlebih dahulu.
- Harganya relatif murah.
- Panjangnya dapat disesuaikan kebutuhan, lebih hemat biaya karena minim sisa.
- Kekurangan Seng:
- Menimbulkan suara bising yang signifikan saat hujan.
- Mudah korosi atau berkarat jika tidak dicat atau lapisan pelindung hilang.
- Bersifat menahan panas, menyebabkan ruangan di bawahnya menjadi lebih panas.
Informasi mengenai perbandingan material atap ini disampaikan melalui wawancara dengan Dosen Teknik Sipil UNS, Purwanto, yang dirilis oleh Kompas.com pada November 2025, serta merujuk pada inisiatif pemerintah terkait “gentengisasi”.