Rasa takut atau antipati terhadap ular sering kali dianggap sebagai naluri alami manusia yang dibawa sejak lahir. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa sikap negatif terhadap hewan melata ini kemungkinan besar terbentuk selama masa kanak-kanak, di mana orang tua memegang peran krusial dalam menanamkan persepsi tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Anthrozoös ini melibatkan lebih dari 100 anak usia taman kanak-kanak atau sekitar lima tahun. Hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak cenderung memandang ular secara berbeda dibandingkan hewan lain akibat penggunaan bahasa negatif atau bahasa yang mengobjektifikasi ular oleh orang dewasa di sekitar mereka.
Masa Kanak-Kanak Sebagai Periode Kritis
Jeff Loucks, peneliti dari Oregon State University (OSU), menjelaskan bahwa masa kanak-kanak merupakan fase penting dalam membentuk sikap dan perilaku terhadap hewan. Menurutnya, ular memiliki reputasi yang sangat negatif di masyarakat Barat dan sering kali disalahpahami, padahal hewan ini memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari lebih 4.000 spesies ular yang teridentifikasi, setidaknya 450 di antaranya menghadapi risiko kepunahan yang tinggi. Sayangnya, dukungan publik untuk konservasi ular tergolong lemah akibat kebencian sosial yang sudah mengakar.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 54 persen orang mengalami kecemasan saat melihat ular. Loucks bahkan menyoroti perilaku ekstrem di Amerika Serikat, di mana data menunjukkan pengemudi sering kali sengaja membelokkan kendaraan mereka hanya untuk menabrak ular di jalan.
Eksperimen Bahasa dan Persepsi
Loucks bersama Denée Buchko dari University of Regina merancang penelitian dalam tiga tahap menggunakan teknik induction task. Mereka menguji bagaimana penggunaan bahasa memengaruhi cara anak usia lima tahun memandang ular dibandingkan dengan manusia, hewan lain, atau benda mati.
Dalam eksperimen ini, orang tua diminta membaca buku cerita tentang ular dengan dua versi bahasa yang berbeda:
- Versi Objektifikasi: Menggunakan kata ganti “itu” dan tidak menyinggung perasaan atau pikiran ular.
- Versi Memanusiakan: Menggunakan kata ganti personal seperti “dia” serta menyebutkan pikiran dan perasaan ular.
Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan bahasa negatif dan objektifikasi mendorong anak-anak untuk melihat ular sebagai makhluk yang sepenuhnya berbeda dari manusia dan hewan lainnya. Tanpa intervensi buku cerita yang positif, anak-anak cenderung tidak menganggap ular memiliki kesamaan biologis dengan makhluk hidup lain.
Edukasi Sebagai Vaksin Psikologis
Kabar baik dari penelitian ini adalah ditemukannya metode untuk mencegah antipati tersebut. Paparan sederhana mengenai kebutuhan biologis ular dan penggambaran yang netral dapat berfungsi sebagai semacam “vaksin psikologis” terhadap sikap negatif.
“Paparan terhadap ular dan pembelajaran tentang kebutuhan biologisnya dapat bertindak sebagai inokulasi terhadap sikap negatif, yang membantu menumbuhkan kepedulian serta rasa hormat terhadap hewan ini,” ujar Loucks.
Studi ini menegaskan bahwa sikap terhadap hewan tidak sepenuhnya bersifat instingtif. Pilihan kata dalam buku cerita dan cara orang tua berbicara sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi generasi muda, yang nantinya akan menjadi kunci utama dalam upaya konservasi spesies ular di masa depan.
