Pentingnya Perencanaan Matang Saat Ganti Atap Seng ke Genteng: Dosen UNS Ungkap Tantangan Kualitas Lokal
Penggantian penutup atap rumah menjadi bagian tak terpisahkan dari perawatan atau penyesuaian kebutuhan hunian. Namun, keputusan untuk beralih dari atap seng ke genteng tidak bisa dilakukan sembarangan. Setiap jenis atap memiliki karakteristik berbeda yang memengaruhi cara pemasangan hingga kekuatan struktur penyangganya. Dosen Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Purwanto, menegaskan bahwa keamanan atap tidak hanya ditentukan oleh material penutup, tetapi juga oleh kesesuaian dan kekuatan rangka yang menopangnya.
“Pada dasarnya semua jenis penutup atap bisa aman jika struktur dan cara pemasangannya benar. Karena itu, rencana penggantian atap seng secara nasional sebenarnya tidak perlu,” ujar Purwanto, saat dimintai pandangan Kompas.com pada Rabu (4/2/2026).
Perhitungan Struktur Krusial dalam Penggantian Atap
Purwanto menjelaskan, peralihan dari atap seng ke genteng membutuhkan penyesuaian struktur yang signifikan. Atap logam atau metal roof banyak dipilih karena efisien dari sisi biaya dan bobot. Material ini relatif ringan, hanya sekitar 12–18 kilogram per meter persegi, sehingga tidak membutuhkan struktur rangka yang rumit dan umumnya tidak memerlukan usuk serta reng.
Berbeda dengan atap seng, genteng memiliki bobot yang jauh lebih berat, sekitar 40–50 kilogram per meter persegi. “Pada atap genteng, usuk dan reng wajib ada, kecuali jika menggunakan rangka baja ringan,” kata Purwanto. Ia menambahkan, “Perbedaan beban ini menuntut struktur rangka atap yang lebih kuat agar bangunan tetap aman dan tahan lama.”
Tantangan Kualitas Genteng Lokal dan Standar SNI
Selain struktur, kualitas genteng juga menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Purwanto menyoroti bahwa industri genteng lokal masih menghadapi tantangan dalam memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), terutama terkait uji lentur, keseragaman bentuk, dan daya serap air.
“Sepengetahuan saya, belum banyak industri genteng lokal yang benar-benar memenuhi standar SNI. Akibatnya, kualitas dan keamanan genteng tidak selalu terjamin,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa keputusan mengganti atap seng dengan genteng bukan hanya soal tampilan rumah, tetapi juga menyangkut aspek keamanan, daya tahan, dan biaya konstruksi. “Jika genteng berkualitas rendah dipasang tanpa dukungan rangka yang sesuai, risikonya bisa cukup serius bagi penghuni rumah,” jelas Purwanto.
Perencanaan Matang Demi Keamanan dan Daya Tahan Bangunan
Mengingat kompleksitas dan risiko yang ada, Purwanto menyarankan pemilik rumah untuk melakukan perencanaan matang sebelum mengganti penutup atap. Perencanaan ini mencakup pemilihan material yang berkualitas hingga penyesuaian struktur rangka atap yang sesuai. Dengan perhitungan yang tepat, penggantian atap tidak hanya meningkatkan kenyamanan dan estetika, tetapi juga menjamin keamanan serta umur panjang bangunan.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Dosen Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Purwanto, yang dirilis pada Rabu, 4 Februari 2026.