Perencana Keuangan Ungkap Strategi Tepat Memulai Investasi Emas di Tengah Fluktuasi Harga
Harga emas Antam menunjukkan dinamika kenaikan dan penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pada Minggu (1/2/2026), harga emas sempat turun menjadi Rp 2.860.000 per gram dari sebelumnya Rp 3.120.000. Namun, pada Senin (2/2/2026), harga kembali melonjak Rp 167.000, mencapai Rp 3.027.000 per gram. Fluktuasi ini memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai waktu terbaik untuk memulai investasi emas.
Saran Perencana Keuangan: Segera Berinvestasi
Menanggapi hal tersebut, perencana keuangan Andi Nugroho menyarankan agar investor segera membeli emas jika ingin berinvestasi. “Salah satu prinsip investasi adalah bila ditanya kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi, jawabannya adalah kemarin. Dan bila kemarin belum sempat berinvestasi, maka waktu yang tepat untuk memulainya adalah hari ini,” kata Andi kepada Kompas.com pada Senin (2/2/2026).
Andi menambahkan, menunggu harga turun justru berisiko. “Karena bila kita ingin menunggu harganya turun dulu, kita tidak bisa tahu kapan harganya akan turun. Jangan-jangan ketika berharap harganya turun, yang ada justru kebalikannya harganya makin naik,” jelasnya.
Lima Hal Penting dalam Investasi Emas
Andi Nugroho juga memaparkan lima hal krusial yang perlu diperhatikan oleh calon investor emas:
1. Bukan untuk Jangka Pendek
Investasi emas sebaiknya tidak ditujukan untuk jangka pendek. “Investasi emas itu sebenarnya untuk jangka menengah-panjang,” tutur Andi. Untuk memperoleh keuntungan yang signifikan atau sesuai persentase yang diharapkan, investor disarankan menyimpan emas setidaknya selama tiga tahun.
2. Perbedaan Harga Beli dan Jual Kembali
Calon investor harus menyadari adanya perbedaan harga beli dan harga jual kembali emas, yang berkisar 10 persen. Untuk mendapatkan keuntungan, harga jual kembali harus lebih tinggi secara signifikan dibandingkan harga pembelian awal.
3. Emas Batangan Lebih Baik dari Perhiasan
Sebagai aset investasi, Andi menyarankan untuk membeli emas dalam bentuk batangan dibandingkan perhiasan. Emas batangan memiliki harga jual kembali yang lebih tinggi, sehingga potensi keuntungan yang didapat investor juga lebih besar.
4. Implikasi Pajak Penjualan Emas
Setiap penjualan kembali emas dikenakan pajak. Andi menerangkan, penjualan emas batangan dikenakan pajak sebesar 0,25 persen, sementara emas perhiasan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen.
5. Pilihan Investasi Emas Fisik dan Digital
Investasi emas kini telah berkembang dan tersedia dalam bentuk fisik maupun digital. Andi menilai potensi pertumbuhan dan tingkat likuiditas antara keduanya sama. Pilihan antara emas fisik atau digital dapat disesuaikan dengan kemampuan finansial dan preferensi individu.
Emas fisik memerlukan pembelian lunas dan penyimpanan mandiri oleh pemilik. Sementara itu, emas digital diminati karena pembeliannya bisa dilakukan secara dicicil dan dapat dicetak fisiknya setelah lunas. “Jadi bagi yang dananya terbatas namun ingin punya emas bisa menjadikan emas digital sebagai alternatif,” ucap Andi.
Selain itu, emas digital juga menjadi pilihan bagi mereka yang khawatir akan potensi kehilangan emas fisik atau tidak ingin repot dalam penyimpanannya. “Terkadang ada orang yang memang tipenya harus melihat barangnya secara fisik dan langsung, jadi bisa memilih untuk membeli emas di butik emas,” papar Andi. Emas digital menawarkan efisiensi dan efektivitas karena dapat dibeli kapan saja tanpa perlu datang ke toko.
Informasi lengkap mengenai strategi investasi emas ini disampaikan oleh perencana keuangan Andi Nugroho kepada Kompas.com yang dirilis pada Senin (2/2/2026).