Berita

Pilih Atap Rumah Ideal: Pakar Ungkap Plus Minus Genteng Tanah Liat, Beton, Kaca, dan Polikarbonat

Pemilihan material atap menjadi krusial dalam pembangunan rumah, tidak hanya sebagai pelindung dari cuaca, tetapi juga memengaruhi kenyamanan, sirkulasi udara, pencahayaan alami, hingga keamanan penghuni. Di Indonesia, berbagai pilihan material atap tersedia, mulai dari genteng tanah liat, keramik, beton, metal, hingga material transparan seperti genteng kaca dan polikarbonat. Setiap jenis memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan ruang, desain rumah, serta kondisi lingkungan.

Pilihan Atap Transparan: Polikarbonat dan Genteng Kaca

Untuk area rumah yang membutuhkan pencahayaan alami, material transparan seperti polikarbonat dan genteng kaca sering menjadi pilihan utama. Keduanya memungkinkan sinar matahari masuk, berkontribusi pada penghematan penggunaan lampu di siang hari.

Dosen Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Purwanto, menjelaskan bahwa polikarbonat merupakan kelompok polimer termoplastik yang mudah dibentuk dengan panas. Atap polikarbonat memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mampu meredam radiasi panas matahari, mudah dipasang, fleksibel, tahan lama, serta memberikan kesan modern. Namun, material ini cenderung memiliki harga relatif mahal dan sulit dibersihkan.

Sementara itu, genteng kaca juga bersifat transparan dan efektif dalam menyediakan pencahayaan alami, cocok untuk rumah bergaya modern dan minimalis. Meski demikian, genteng kaca memiliki kekurangan karena mudah pecah dan, jika digunakan berlebihan, dapat meningkatkan suhu ruangan di bawahnya. Sebagaimana dilansir Kompas.com pada 14 November 2025, Purwanto menyarankan genteng kaca lebih tepat difungsikan sebagai sumber penerangan tambahan, sedangkan polikarbonat lebih ideal untuk kanopi, carport, atau ruang jemur.

Genteng Konvensional: Tanah Liat, Beton, dan Metal

Selain material transparan, jenis genteng konvensional seperti tanah liat, beton, dan metal masih banyak digunakan untuk atap rumah di Indonesia. Arsitek sekaligus pendiri Green Building Council Indonesia, Ariko Andikabina, menyatakan bahwa ketiga material tersebut relatif aman dari risiko bocor, asalkan dipasang dengan benar.

Untuk genteng tanah liat dan beton, kemiringan atap minimal yang disarankan adalah 30 derajat. Jika terlalu landai, air hujan berisiko masuk melalui celah genteng akibat dorongan angin atau sifat kapilaritas air. “Kalau kemiringan kurang dari 30 derajat, potensi bocor akan meningkat,” ujar Ariko, sebagaimana dilansir Kompas.com pada 11 November 2026.

Di sisi lain, atap metal atau sheet seperti UPVC dapat dipasang dengan kemiringan lebih landai, bahkan hingga 5 derajat, sesuai spesifikasi produk. Namun, atap metal memiliki risiko lebih besar saat angin kencang karena bisa terlepas dan tertiup angin, berpotensi membahayakan orang di sekitarnya. Sebaliknya, genteng tanah liat dan beton cenderung lebih aman dari risiko tertiup angin karena bobotnya lebih berat. Meskipun demikian, tetap ada risiko runtuh atau meluncur jika pemasangan tidak tepat.

Adapun atap beton datar relatif aman terhadap terpaan angin, tetapi rentan bocor karena adanya rongga beton dan efek muai-susut. Oleh karena itu, atap jenis ini memerlukan lapisan waterproofing tambahan.

Atap Paling Cocok untuk Iklim Tropis Indonesia

Untuk iklim tropis seperti Indonesia, Purwanto menyebut genteng tanah liat dan genteng keramik sebagai pilihan yang paling sesuai. Kedua jenis genteng ini mampu meredam panas sehingga suhu di dalam rumah lebih sejuk. Selain itu, celah pada pemasangannya membantu sirkulasi udara panas keluar dari bangunan.

Dari sisi keawetan, genteng keramik dinilai lebih tahan lama dibanding genteng tanah liat, namun harganya relatif lebih mahal, tergantung merek dan model. Sebaliknya, genteng metal dinilai kurang cocok untuk rumah tinggal di daerah tropis karena sifatnya yang meneruskan panas dan desainnya yang rapat, sehingga udara panas terperangkap di bawah atap.

Pada akhirnya, tidak ada satu jenis atap yang paling unggul untuk semua kondisi. Pemilihan material harus disesuaikan dengan fungsi ruang, desain rumah, anggaran, serta kondisi lingkungan sekitar. Yang terpenting, apa pun material atap yang dipilih, pemasangan harus mengikuti aturan teknis agar atap lebih awet, tahan cuaca, dan aman bagi penghuni rumah.

Informasi lengkap mengenai perbandingan material atap ini disampaikan melalui artikel di Kompas.com yang ditulis oleh Alinda Hardiantoro dan diedit oleh Inten Esti Pratiwi.