Pemilihan pelek kendaraan tidak hanya sekadar estetika desain, melainkan juga krusial dalam menentukan kekuatan dan durabilitas. Di pasar otomotif, terdapat tiga jenis pelek yang umum digunakan, yakni casting, flow forming, dan forged, yang masing-masing menawarkan karakteristik berbeda dari proses produksi hingga ketahanan.
Menurut Anantyo Herlambang, pemilik toko pelek Ping Wheels, perbedaan mendasar ketiga jenis pelek ini terletak pada struktur material yang dihasilkan dari proses pembuatannya. Pemahaman akan perbedaan ini penting bagi pemilik kendaraan untuk memilih pelek yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pemakaian.
Memahami Tiga Jenis Pelek Utama
Anantyo Herlambang, yang akrab disapa Tyo, menjelaskan bahwa kekuatan pelek sangat dipengaruhi oleh kepadatan dan arah struktur logamnya. “Perbedaan utama ketiga jenis pelek tersebut terletak pada struktur material yang dihasilkan dari proses produksinya,” kata Tyo kepada Kompas.com pada Senin (23/2/2026).
Ia menambahkan, proses produksi yang berbeda menghasilkan tingkat kepadatan material yang bervariasi, yang pada akhirnya menentukan seberapa kuat pelek tersebut menahan benturan dan tekanan.
Pelek Forged: Kekuatan Maksimal
Pelek forged diakui sebagai jenis dengan kekuatan paling tinggi. Proses pembuatannya melibatkan penempaan menggunakan tekanan dan suhu ekstrem, yang secara signifikan memadatkan struktur logam.
“Pelek forged kekuatannya paling tinggi. Struktur logamnya sangat padat dan terarah karena ditempa, sehingga lebih tahan terhadap benturan,” ujar Tyo. Kepadatan material ini menjadikan pelek forged pilihan utama untuk kendaraan performa tinggi atau yang sering melintasi medan berat.
Pelek Flow Forming: Kombinasi Kekuatan dan Efisiensi
Di bawah pelek forged, terdapat pelek flow forming atau flow forged. Jenis ini merupakan hasil kombinasi antara proses casting dan pembentukan tambahan menggunakan tekanan. Proses ini menghasilkan struktur material yang lebih rapat dibandingkan pelek cetak biasa.
“Kekuatan flow forming lebih baik dari cast, dengan durabilitas sekitar 20 persen lebih kuat. Struktur materialnya juga lebih padat daripada casting,” jelas Tyo. Pelek flow forming menawarkan keseimbangan antara kekuatan dan biaya produksi yang lebih efisien dibandingkan forged.
Pelek Casting: Pilihan Umum dengan Pertimbangan
Pelek cast atau casting adalah jenis yang paling umum ditemui di pasaran, terutama karena biaya produksinya yang relatif lebih rendah. Proses pembuatannya dilakukan dengan menuangkan logam cair ke dalam cetakan.
Namun, dari sisi kekuatan, Tyo menyebut pelek cast berada di level paling rendah dibandingkan dua jenis lainnya. “Struktur logamnya lebih renggang karena logam cair dituang ke cetakan, jadi daya tahannya tidak sekuat flow forming apalagi forged,” katanya.
Meskipun demikian, pelek cast tetap memadai untuk penggunaan harian selama ukuran dan spesifikasinya sesuai dengan kendaraan serta tidak digunakan secara ekstrem. Ini menjadikannya pilihan praktis untuk sebagian besar pengendara.
Rekomendasi Penggunaan Sesuai Kebutuhan
Pemilihan jenis pelek sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pemakaian kendaraan. Pelek flow forming dan forged umumnya dipilih oleh pengguna yang mengutamakan performa, bobot lebih ringan, dan ketahanan terhadap benturan, seperti untuk mobil performa atau kendaraan yang sering melintasi jalan rusak.
Sebaliknya, pengguna yang sering melewati jalan berlubang atau membawa beban berat disarankan untuk mempertimbangkan pelek dengan struktur material yang lebih kuat. Dengan memahami perbedaan proses produksi dan kekuatannya, pemilik kendaraan dapat menentukan pilihan pelek yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga aman dan tahan lama.
Informasi lengkap mengenai perbedaan jenis pelek ini disampaikan melalui pernyataan Anantyo Herlambang, pemilik Ping Wheels, yang dirilis pada Senin, 23 Februari 2026.
