Peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 yang telah menyelesaikan Latihan Pemahaman Modul 2 Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Topik 3 tentang Experiential Learning, kini diwajibkan mengisi cerita reflektif. Salah satu pertanyaan kunci yang diajukan dalam Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) adalah, “Bagaimana Anda selama ini menjadi guru? Apakah Anda sudah memahami experiential learning dan menerapkannya?”
Pertanyaan ini dirancang untuk mendorong para guru melakukan evaluasi diri mendalam terhadap praktik mengajar yang selama ini dijalankan. Guru tidak hanya diminta memberikan jawaban deskriptif, tetapi juga menunjukkan pemahaman konsep serta implementasinya dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Refleksi Diri Guru dalam Pendidikan Profesi
Proses refleksi ini menjadi krusial bagi peserta PPG 2025 untuk mengidentifikasi sejauh mana pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pengalaman langsung telah diterapkan. Banyak guru mengakui bahwa sebelumnya mereka cenderung fokus pada penyampaian materi secara runtut dan terstruktur, dengan harapan siswa memahami konsep dengan baik.
Namun, melalui observasi dan evaluasi diri, muncul kesadaran bahwa pembelajaran yang dilakukan masih cukup berpusat pada penjelasan dari guru. Meskipun siswa memahami materi, kesempatan mereka untuk mengalami langsung proses belajar dan menarik makna dari pengalaman tersebut belum optimal.
Memahami Konsep Experiential Learning
Melansir dari buku Kreativitas dan Inovasi, Model Pembelajaran (2024) karya Erna Budiarti, experiential learning merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pembelajaran melalui pengalaman langsung. Dalam pendekatan ini, siswa terlibat aktif dalam kegiatan belajar yang memungkinkan mereka mengalami, merefleksikan, dan memahami konsep secara lebih mendalam.
Pengetahuan diperoleh bukan hanya dari penjelasan teori semata, tetapi melalui pengalaman konkret yang kemudian diolah melalui proses refleksi. Konsep ini menekankan siklus pengalaman konkret, refleksi observasi, konseptualisasi abstrak, dan eksperimentasi aktif.
Transformasi Praktik Mengajar Melalui Pengalaman Langsung
Banyak peserta PPG mulai menyadari bahwa experiential learning bukan sekadar memberi tugas praktik, melainkan memberi ruang bagi siswa untuk mengalami, merefleksikan, dan menarik makna dari pengalaman belajar tersebut. Pemahaman ini mendorong perubahan dalam rancangan pembelajaran.
Beberapa guru mulai menerapkan pendekatan ini melalui diskusi berbasis studi kasus, kegiatan praktik sederhana yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa, simulasi, hingga kerja kelompok berbasis masalah. Perubahan ini membuat suasana kelas lebih hidup, diskusi menjadi lebih bermakna, dan siswa terlihat lebih aktif serta berani menyampaikan pendapat.
Meskipun belum sepenuhnya konsisten, para guru berkomitmen untuk merancang pembelajaran berbasis pengalaman secara lebih terstruktur. Tujuannya adalah agar experiential learning tidak sekadar menjadi aktivitas tambahan, tetapi benar-benar menjadi inti proses belajar yang berdampak nyata pada penguasaan kompetensi siswa secara menyeluruh.
