Islami

Ramadan 2026: Delapan Menu Takjil Paling Laris di ‘War Takjil’, dari Gorengan hingga Timun Suri

Advertisement

Menjelang pukul 16.00 WIB di bulan Ramadan, jalanan kota mendadak ramai dengan deretan lapak dadakan yang menjajakan aneka hidangan berbuka puasa. Fenomena yang akrab disebut ‘war takjil‘ ini menjadi tradisi tahunan yang selalu dinanti, di mana umat Muslim berburu makanan untuk membatalkan puasa. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,’ menegaskan esensi ibadah puasa.

Namun, di tengah semangat berburu takjil, penting untuk tetap mengingat tujuan utama puasa dan menjaga keseimbangan asupan gizi. Lalu, apa saja ide takjil yang paling sering dibeli dan hampir tak pernah absen saat ‘war takjil’?

Gorengan, Primadona yang Sulit Tergantikan

Di antara semua menu, gorengan selalu jadi juara. Bakwan, tahu isi, tempe mendoan, hingga pisang goreng nyaris tak pernah sepi pembeli. Dalam buku Fiqih Puasa karya Ahmad Sarwat, dijelaskan bahwa berbuka dengan makanan sederhana lebih dianjurkan sebelum melanjutkan makan besar. Gorengan kerap dipilih karena praktis, murah, dan cepat mengganjal perut.

Meski demikian, ahli gizi dalam buku Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan karya Sunita Almatsier mengingatkan agar konsumsi gorengan tidak berlebihan karena kandungan lemaknya cukup tinggi. Artinya, boleh saja menikmati, tetapi tetap bijak.

Kolak, Cita Rasa Manis yang Identik dengan Ramadan

Kolak pisang, ubi, hingga kolang-kaling menjadi ikon Ramadan di Indonesia. Kuah santan berpadu gula merah menghadirkan rasa manis-gurih yang khas. Dalam Sejarah Kuliner Nusantara karya Fadly Rahman, kolak disebut sebagai adaptasi kuliner lokal yang kemudian melekat dengan tradisi Ramadan karena bahan-bahannya mudah didapat dan bernilai energi tinggi. Tak heran, kolak selalu habis lebih dulu. Selain mengenyangkan, rasa manisnya membantu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.

Es Buah dan Minuman Dingin, Pelepas Dahaga Favorit

Setelah lebih dari 12 jam menahan haus, es buah, sop buah, hingga es blewah menjadi incaran utama. Warna sirup merah dan potongan buah segar menggoda siapa saja yang lewat. Dalam buku Ilmu Pangan dan Gizi karya Sediaoetama, cairan dan gula alami dari buah membantu tubuh memulihkan hidrasi secara bertahap saat berbuka. Karena itu, menu berbasis buah menjadi pilihan yang relatif lebih aman dibanding minuman tinggi gula buatan.

Es Pisang Ijo, Primadona dari Timur Indonesia

Kuliner khas Makassar ini kian populer di berbagai kota. Pisang raja dibalut adonan hijau, disajikan bersama bubur sumsum, sirup merah, dan es serut. Kombinasi karbohidrat dan gula sederhana membuatnya cukup mengenyangkan. Banyak orang memilih menu ini sebagai pengganjal sebelum salat Maghrib.

Advertisement

Lontong Isi dan Arem-Arem, Andalan Tim Asin

Bagi yang kurang menyukai makanan manis, lontong isi oncom atau ayam jadi pilihan tepat. Teksturnya padat dan praktis dibawa pulang. Dalam Ensiklopedia Kuliner Indonesia terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lontong disebut sebagai salah satu pangan tradisional yang fleksibel dan mudah dikombinasikan dengan berbagai isian. Menu ini sering diborong bersamaan dengan gorengan, menciptakan perpaduan rasa gurih dan mengenyangkan.

Bubur Sumsum, Candil, hingga Biji Salak

Tekstur lembut bubur sumsum dengan kuah gula merah kerap jadi pilihan aman untuk lambung kosong. Begitu pula candil atau biji salak yang kenyal. Dalam tradisi kuliner Jawa, hidangan berbasis santan dan gula merah banyak disajikan dalam momen penting, termasuk bulan puasa, karena dianggap menghangatkan tubuh.

Bubur Kampiun dan Kekayaan Rasa Minang

Bagi pencinta variasi, bubur kampiun menghadirkan campuran bubur sumsum, ketan hitam, candil, hingga kolak dalam satu wadah. Rasanya kompleks dan sangat mengenyangkan. Menu ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal memperkaya ragam takjil Nusantara.

Es Timun Suri, Buah Musiman yang Diburu

Saat Ramadan, timun suri mendadak populer. Buah bertekstur lembut ini biasanya disajikan dengan sirup cocopandan dan es batu. Karakteristiknya yang menyegarkan membuatnya cocok sebagai pelepas dahaga alami.

Fenomena ‘war takjil’ memang menghadirkan keceriaan dan denyut ekonomi tersendiri setiap sore Ramadan. Namun, esensi bulan suci ini tetaplah pada peningkatan ketakwaan dan pengendalian diri, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, ‘Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.’ Tradisi berburu takjil boleh saja menjadi bagian dari kemeriahan, tetapi tujuan utama puasa untuk membentuk ketakwaan harus tetap menjadi prioritas.

Informasi mengenai ragam takjil terlaris ini dihimpun dari berbagai sumber kuliner dan kajian keislaman, termasuk buku Fiqih Puasa karya Ahmad Sarwat dan Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan karya Sunita Almatsier.

Advertisement