Rilis Dokumen Jeffrey Epstein Ungkap Nama Donald Trump Lebih dari 1.800 Kali, Termasuk Tuduhan Pemerkosaan Remaja
Nama mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, disebut lebih dari 1.800 kali dalam jutaan dokumen Jeffrey Epstein yang dirilis pada Jumat, 30 Januari 2026. Perilisan dokumen ini kembali mengingatkan persahabatan Trump dengan Epstein, pelaku kejahatan seksual yang meninggal pada 2019.
Rilis Dokumen Epstein dan Keterkaitan Donald Trump
Sekitar 3 juta dokumen terkait Jeffrey Epstein, yang awalnya ditolak oleh Donald Trump, akhirnya dirilis pada Jumat (30/1/2026). Penelusuran di situs Epstein milik Departemen Kehakiman AS untuk kata “Donald Trump” menghasilkan lebih dari 1.800 temuan, jumlah yang terus bertambah seiring pengindeksan berkas.
Banyak rujukan tersebut berupa artikel berita yang menyebut Trump selama masa kepresidenannya dan dibagikan Epstein kepada orang lain. Rujukan juga mencakup komentar Epstein tentang Trump kepada sejumlah jurnalis dan rekan dekatnya, termasuk Steve Bannon.
Tuduhan yang Belum Terverifikasi dalam Dokumen
Meski sebagian rujukan bersifat netral, beberapa di antaranya mencakup tuduhan penyerangan seksual yang belum diverifikasi terhadap Trump. Berkas tersebut juga memberikan rincian baru mengenai interaksi sejumlah korban Epstein dengan Trump.
Salah satu catatan FBI menyebutkan seorang perempuan yang dalam gugatan hukum menuduh Trump memperkosanya saat ia berusia 13 tahun. Selain itu, terdapat hasil wawancara FBI dengan salah satu korban Epstein yang menyatakan bahwa Ghislaine Maxwell, rekan Epstein yang kini dipenjara atas kasus perdagangan seks, pernah “memperkenalkannya” kepada Trump di sebuah pesta.
Departemen Kehakiman AS menyatakan pada Jumat (30/1/2026) bahwa tuduhan terhadap Trump dalam dokumen-dokumen itu tidak benar. Tidak ada bukti publik yang menunjukkan bahwa tuduhan tersebut dinilai kredibel oleh FBI.
Tanggapan Donald Trump dan Gedung Putih
Donald Trump sejak lama membantah segala bentuk kesalahan yang berkaitan dengan Epstein maupun tuduhan pelanggaran seksual apa pun. Ia sempat buka suara pada Sabtu (31/1/2026) menanggapi pengungkapan jutaan dokumen Epstein.
“Saya tidak melihatnya sendiri, tetapi saya diberitahu oleh sejumlah orang yang sangat penting bahwa dokumen itu bukan hanya membebaskan saya, melainkan justru bertolak belakang dengan apa yang diharapkan banyak orang,” kata Trump.
Wakil Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menegaskan bahwa Gedung Putih tidak memiliki pengawasan atas peninjauan dokumen terkait penyelidikan Epstein. “Saya ingin menegaskan, mereka sama sekali tidak terlibat dalam peninjauan ini,” beber Blanche. “Mereka tidak memiliki pengawasan atas proses tersebut. Mereka tidak memberi tahu departemen ini bagaimana melakukan peninjauan, apa yang harus dicari, apa yang harus disunting, maupun apa yang tidak perlu disunting,” imbuhnya.
Polemik Perilisan Dokumen Epstein: Apakah Sudah Lengkap?
Dilansir dari BBC pada Selasa (3/2/2026), belum pasti apakah seluruh dokumen Epstein telah dirilis. Namun, pengungkapan dokumen pada Jumat (30/1/2026) menandai tugas Departemen Kehakiman AS sudah selesai.
“Menandai berakhirnya proses identifikasi dan peninjauan dokumen yang sangat komprehensif,” terang Blanche. Namun, Partai Demokrat terus berpendapat bahwa departemen tersebut telah menahan terlalu banyak dokumen, kemungkinan sekitar dua setengah juta tanpa alasan yang memadai.
Anggota Kongres Demokrat Ro Khanna, yang memelopori Epstein Files Transparency Act bersama Anggota Kongres Republik Thomas Massie, menyatakan masih waspada. “DOJ (Departemen Kehakiman AS) mengatakan telah mengidentifikasi lebih dari 6 juta halaman yang berpotensi relevan, tetapi hanya merilis sekitar 3,5 juta setelah peninjauan dan penyensoran,” kata Khanna. “Ini menimbulkan pertanyaan mengapa sisanya ditahan,” sambungnya.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui rilis dokumen Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman AS dan pernyataan resmi pihak terkait.