Berita

Rilis Jutaan Dokumen Baru Kasus Jeffrey Epstein: Narasi ‘Epstein Didn’t Kill Himself’ Kembali Menggema di Publik

Jutaan lembar dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein kembali menggemparkan jagat internasional. Pembukaan berkas-berkas mengenai kekerasan seksual tersebut memicu narasi lawas “Epstein didn’t kill himself” atau “Epstein tidak membunuh dirinya sendiri” kembali ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.

Frasa tersebut terpantau ramai muncul di platform X dalam beberapa jam terakhir, salah satunya diunggah oleh akun @s**** pada Senin (2/2/2026). Akun tersebut menyebut, “Kamu inget ga sama kalimat ‘Epstein didn’t kill himself’ yang ramai beberapa tahun lalu? Banyak yang percaya dia ga bundir, tapi dibunuh untuk nutupin kasus pedofil yang nyeret nama-nama penting.”

Asal Mula Frasa dan Kematian Jeffrey Epstein

Narasi “Epstein didn’t kill himself” bukanlah hal baru. Kalimat ini pertama kali beredar luas setelah Jeffrey Epstein ditemukan meninggal dunia di sel penjara Manhattan pada 2019 silam. Kematiannya dinyatakan sebagai kasus bunuh diri oleh pemerintah.

Mengutip Wired pada 15 November 2019, frasa ini menggambarkan kekecewaan dan ketidakpercayaan publik terhadap kekuasaan dan sistem. Kata-kata tersebut kala itu dapat ditemukan di berbagai media, mulai dari kaus, kaleng minuman, hingga celetukan dalam wawancara berita, serta ramai di media sosial.

Jeffrey Epstein sendiri merupakan sosok yang terlibat dalam kejahatan seksual dan perdagangan anak di bawah umur selama lebih dari satu dekade. Ia menghadapi tuduhan pelecehan seksual terhadap sejumlah anak perempuan dan meninggal saat menunggu persidangan kasusnya.

Banyak pihak merasa ada kejanggalan pada kematian Epstein. Ia meninggal tanpa kamera pengawas di selnya, sementara penjaga di luar pintunya tertidur. Epstein diketahui mengalami cedera fatal di lehernya, namun tetap dinyatakan bunuh diri.

Dari kondisi tersebut, berbagai teori dan dugaan publik bermunculan. Wired mencatat, ada yang menuduh tokoh politik, orang-orang berkuasa, atau kelompok elit tertentu berada di balik kematian Epstein. Meskipun dengan perbedaan pendapat, mereka sepakat bahwa kematian Epstein dirasa tidak wajar, sehingga frasa “Epstein didn’t kill himself” menyeruak dan digunakan secara meluas.

Pembukaan ‘Epstein Files’ oleh Departemen Kehakiman AS

Saat ini, warganet kembali hangat membicarakan “Epstein Files” yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat. Berkas-berkas ini memuat dokumen terkait investigasi kriminal atas kasus perdagangan seks yang dilakukan oleh Jeffrey Epstein dan kaki tangannya, Ghislaine Maxwell.

Di dalamnya tercakup catatan, rekaman, email, foto, hingga video, sebagaimana dikutip dari Kompas.com pada Selasa (3/2/2026). Pembukaan dokumen ini merupakan amanat dari Epstein Files Transparancy Act yang diloloskan Kongres AS pada November 2025, yang mewajibkan otoritas untuk membuka berkas dengan pengecualian perlindungan korban.

Dokumen awal dirilis pada 19 Desember 2025 dengan jumlah ratusan ribu berkas. Kemudian, pada 23 Desember 2025, rilisan lanjutan berisi korespondensi Epstein dengan sejumlah tokoh dunia, termasuk Pangeran Andrew Mountbatten-Windsor, mantan Pangeran Andrew dari Inggris.

Departemen Kehakiman AS kembali merilis sekitar tiga juta halaman dokumen tambahan pada 30 Januari 2026. Dokumen-dokumen inilah yang kini menjadi buah bibir di tengah masyarakat internasional dan kembali memicu perbincangan mengenai kematian Epstein.

Informasi lengkap mengenai pembukaan dokumen kasus Jeffrey Epstein ini disampaikan melalui berbagai rilis resmi Departemen Kehakiman Amerika Serikat dan diliput oleh media massa, termasuk Kompas.com.