Ringgit Menguat Drastis, Pekerja Indonesia di Malaysia Kini Lebih Mudah Wujudkan Impian Beli Aset di Tanah Air
Penguatan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap rupiah membawa angin segar bagi ribuan pekerja migran Indonesia di Negeri Jiran. Kondisi ini membuat nilai kiriman uang ke Tanah Air kini terasa berlipat, meski jumlah ringgit yang dikirim tetap sama. Dampak positif ini mulai dirasakan para pekerja sejak Kamis, 29 Januari 2026, seiring penguatan signifikan mata uang Malaysia.
Penguatan Ringgit Beri Keuntungan Berlipat bagi Keluarga di Kampung
Wasitah (46), seorang pekerja migran asal Medan, Sumatera Utara, yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di Malaysia, mengaku merasakan manfaat langsung dari penguatan ringgit. Ia menuturkan, kiriman uang sebesar 200 ringgit Malaysia (RM) per bulan kepada keluarganya kini terasa jauh lebih besar nilainya di Indonesia.
“Di sini 200 ringgit terasa biasa saja, tapi di kampung nilainya hampir Rp 1 juta. Rasanya seperti orang kaya karena banyak kebutuhan keluarga yang bisa dipenuhi,” ujar Wasitah kepada Sinar Harian, Kamis (29/1/2026).
Wasitah, yang telah bekerja di Malaysia selama hampir 15 tahun, secara rutin mengirim uang untuk ibu serta anaknya di Indonesia. Menurutnya, penguatan ringgit sangat membantu meringankan beban finansial keluarga di kampung halaman. “Dulu, Rp 1 juta hampir setara 300 ringgit Malaysia. Sekarang sudah berbeda. Jumlah kiriman saya tetap, tapi yang diterima keluarga jadi lebih banyak,” tambahnya.
Impian Beli Tanah dan Aset di Kampung Halaman Kian Terwujud
Penguatan ringgit juga membuka peluang bagi pekerja migran untuk lebih cepat mewujudkan rencana jangka panjang, seperti membeli aset. Hal ini dirasakan Sri Yolanda Sawir (25), seorang pekerja toko asal Indonesia yang kini bekerja di Malaysia. Ia mengatakan, kondisi nilai tukar saat ini mempercepat mimpinya untuk membeli tanah di Medan.
“Sebelumnya saya harus menunggu lama untuk mengumpulkan uang beli tanah. Sekarang, dengan nilai tukar yang lebih baik, jumlah yang sama bisa terkumpul lebih cepat,” ujar Sri Yolanda.
Ibu tunggal ini memperkirakan, jika ringgit terus menguat, dalam tiga hingga empat tahun ke depan tabungannya cukup untuk membeli sebidang tanah senilai sekitar Rp 60 juta. Setiap bulan, ia menyisihkan sekitar 200 ringgit Malaysia, tergantung kondisi keuangan pribadinya. Sri Yolanda menegaskan, ia bekerja keras demi masa depan anaknya di Indonesia sekaligus mewujudkan impian memiliki aset di kampung halaman.
Senada dengan Sri Yolanda, pekerja buruh asal Aceh, Mohamad Agung Wijaya (29), mengaku senang dapat membantu orang tuanya dengan nilai kiriman uang yang kini lebih menguntungkan. “Saya senang bisa membantu orang tua mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tapi saya biasanya cek dulu kurs sebelum mengirim uang,” ujarnya.
Agung menambahkan, jika nilai tukar mencapai lebih dari RM 300 untuk setara satu juta rupiah, ia memilih menunda pengiriman karena dinilai kurang menguntungkan baginya.
Ringgit Catat Level Terkuat Sejak 2018, Ekonom Prediksi Penguatan Lanjut
Berdasarkan laporan pasar keuangan Malaysia, nilai ringgit tercatat menguat pada level 3,96 terhadap dolar AS pada perdagangan pagi Kamis (29/1/2026). Pada pukul 08.00 waktu setempat, ringgit diperdagangkan di kisaran 3,9650–3,9750 per dolar AS, yang merupakan level terkuat sejak Mei 2018.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid, memperkirakan ringgit masih berpeluang menguat dalam waktu dekat. Prediksi ini didasari oleh tren pelemahan dolar AS di pasar global.
Informasi mengenai dampak penguatan ringgit bagi pekerja migran Indonesia ini dihimpun dari berbagai pernyataan narasumber dan laporan pasar keuangan yang dirilis pada Kamis, 29 Januari 2026.