Teknologi

Sam Altman Bela AI dari Kritik Lingkungan, Sebut Perbandingan Konsumsi Energi dengan Manusia Tidak Adil

Advertisement

CEO OpenAI dan pencipta ChatGPT, Sam Altman, memberikan pembelaan terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di tengah kritik mengenai dampak lingkungannya. Dalam sebuah dialog dengan Anant Goenka, Direktur Eksekutif The Indian Express Group di New Delhi, Altman menyatakan bahwa perbandingan konsumsi energi AI dengan manusia seringkali tidak adil. Pernyataan ini justru memicu beragam reaksi dari warganet.

Pembelaan Sam Altman Terhadap Konsumsi Energi AI

Altman menepis klaim yang beredar di internet, seperti narasi bahwa satu permintaan atau query di ChatGPT menghabiskan 17 galon air, dengan menyebutnya tidak benar dan tidak sesuai fakta. Ia mengakui bahwa total konsumsi energi AI memang menjadi isu penting yang perlu diperhatikan, terutama mengingat peningkatan pesat penggunaannya di seluruh dunia.

Menurut Altman, solusi yang perlu didorong adalah percepatan penggunaan energi nuklir serta energi terbarukan, seperti angin dan surya. Namun, pernyataan yang paling menyita perhatian adalah perbandingannya antara energi AI dan manusia.

Altman berpendapat bahwa banyak kritik hanya membandingkan energi untuk melatih model AI seperti GPT-4 dengan energi yang dibutuhkan manusia untuk menjawab satu pertanyaan. Orang nomor satu di OpenAI ini menyatakan, jika ingin adil, orang juga harus menghitung energi yang dibutuhkan untuk “melatih” manusia.

“Butuh sekitar 20 tahun kehidupan dan semua makanan yang dikonsumsi selama itu sebelum seseorang menjadi pintar,” kata Altman.

Pria kelahiran Chicago tahun 1985 ini bahkan menyebut proses evolusi manusia selama miliaran tahun juga merupakan bagian dari energi yang digunakan untuk menghasilkan kecerdasan manusia. Menurut Altman, perbandingan yang lebih tepat adalah menghitung berapa energi yang dibutuhkan AI untuk menjawab satu pertanyaan setelah modelnya dilatih, dibandingkan dengan energi yang digunakan manusia untuk melakukan hal yang sama. Bos OpenAI ini menilai AI kemungkinan sudah menyamai, bahkan melampaui, efisiensi energi manusia dalam konteks tersebut.

Reaksi Warganet: Pernyataan Altman Dianggap ‘Distopia’

Pernyataan Sam Altman segera menuai kritik di media sosial. Warganet menilai Altman bukan hanya membela penggunaan energi AI, tetapi juga menyampaikan cara pandang yang dianggap merendahkan manusia.

Pengguna X bernama David Fairchild menganggap analogi Altman berbahaya karena menyamakan manusia dengan “komputer daging” yang tidak efisien, yang membutuhkan makanan dan waktu bertahun-tahun sebelum bisa berguna. Menurut Fairchild, jika manusia dipandang hanya sebagai “biaya energi untuk melatih kecerdasan”, maka membakar listrik dalam jumlah besar untuk membangun AI bisa terasa wajar, bahkan dianggap lebih baik, meskipun berdampak buruk pada manusia dan lingkungan.

Fairchild menyebut cara pikir tersebut sebagai distopia, yaitu gambaran masa depan yang suram dan tidak manusiawi. Hal ini membuat perkembangan manusia terdengar seperti kesalahan sistem dan menjadikan pengorbanan kesejahteraan manusia demi daya komputasi terlihat logis. Bagi Fairchild, manusia bukan sekadar angka biaya energi, melainkan tujuan itu sendiri. Ia menambahkan, jika ada orang yang melihat pertumbuhan seorang anak hingga dewasa hanya sebagai “energi untuk melatih kecerdasan”, itu menunjukkan cara pandang yang sangat bermasalah.

Advertisement

Kritik serupa juga datang dari pengguna lain yang mempertanyakan posisi Sam Altman sebagai pemimpin perusahaan teknologi besar. “Saya benar-benar tidak mengerti bagaimana orang seperti ini bisa memiliki kekuasaan sebesar itu dan membentuk masa depan kita. Orang ini seharusnya tidak memimpin perusahaan mana pun,” tulis salah satu warganet, sebagaimana dihimpun dari The Times of India.

Sorotan Terhadap Konsumsi Listrik AI: GPT-5 Lebih Boros

Perdebatan ini muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap konsumsi listrik pusat data AI. Beberapa waktu lalu, sebuah riset dari University of Rhode Island mengungkap bahwa GPT-5 diperkirakan delapan kali lebih boros listrik dibanding GPT-4.

Menurut riset tersebut, satu kali permintaan atau perintah (query) yang dikerjakan GPT-5 diperkirakan mengonsumsi listrik rata-rata 18,35 watt-hour (Wh). Angka ini jauh di atas GPT-4 yang hanya mengonsumsi rata-rata sekitar 2,12 Wh. Dengan konsumsi daya tersebut, GPT-5 masuk jajaran model AI paling boros energi, hanya kalah dari OpenAI o3 dan DeepSeek R1 buatan China.

Tingginya kebutuhan daya GPT-5 dipicu oleh fitur thinking mode, yang memungkinkan AI memproses tugas lebih lama dan lebih mendalam. Dalam mode ini, penggunaan energi dapat naik lima hingga sepuluh kali lipat dari respons standar. Selain itu, kemampuan GPT-5 untuk memproses teks, gambar, dan video secara bersamaan juga menambah beban daya komputasi.

OpenAI sebelumnya mengungkapkan ChatGPT memproses hingga 2,5 miliar permintaan per hari. Jika seluruhnya menggunakan GPT-5, konsumsi energi harian bisa mencapai 45 gigawatt-hour bila dihitung secara kasar. Jumlah tersebut setara dengan produksi dua hingga tiga pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), atau cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 1,5 juta rumah tangga di Amerika Serikat dalam sehari.

Para pakar memperingatkan, jika tren penggunaan AI tidak diimbangi dengan efisiensi energi, kebutuhan daya pusat data berpotensi melonjak signifikan. Kondisi ini bisa berdampak pada biaya operasional sekaligus memunculkan tantangan baru terkait kebijakan iklim.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Sam Altman dan riset dari University of Rhode Island yang dirilis beberapa waktu lalu.

Advertisement