Edukasi

Sastia Prama Putri: Ilmuwan Indonesia di Jepang Tegaskan Kebanggaan Paspor Merah Putih Setelah 21 Tahun

Advertisement

Ilmuwan diaspora Indonesia, Sastia Prama Putri, menyatakan kebanggaannya masih memegang paspor Indonesia, meskipun telah 21 tahun menetap dan berkarir di Jepang. Pernyataan ini diungkapkan Sastia melalui unggahan di akun Instagram resminya, @sas.tiaputri, pada Kamis (26/2/2026), disertai foto paspor Indonesianya.

Sastia menjelaskan bahwa ia tinggal di Jepang tanpa ikatan dinas dari pemerintah Indonesia, dan selama masa studinya, ia mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Jepang. Ia juga menekankan pentingnya terus mencintai Indonesia.

Kontribusi untuk Tanah Air dari Negeri Sakura

Selama dua dekade lebih di Jepang, Sastia Prama Putri telah memberikan sejumlah kontribusi nyata bagi Indonesia. Kontribusi tersebut meliputi upaya membantu tempe mendunia melalui inovasi risetnya, meningkatkan ekspor komoditas prioritas Indonesia ke Jepang, serta mendidik puluhan mahasiswa Indonesia yang telah atau akan kembali ke Tanah Air.

Sastia merupakan peneliti perempuan diaspora Indonesia yang pernah menjadi sorotan dalam Simposium Cendikia Kelas Dunia 2019. Di Jepang, jumlah peneliti perempuan hanya mencapai 10,6 persen dari total peneliti, dan Sastia berhasil menjadi salah satu di antaranya.

Perjalanan Karir dan Tantangan Peneliti Perempuan

Saat ini, Sastia menjabat sebagai Associate Professor di University of Osaka. Ia pernah menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dalam dunia riset, khususnya bagi peneliti perempuan.

“Riset bukan hal yang mudah, dan kegagalan merupakan bagian darinya. Kita harus memiliki mental kuat untuk menjadi peneliti dan semangat positif setiap waktu. Terutama peneliti perempuan, harus ekstra lebih tanggung untuk mendapat perhatian dan pengakuan,” tegas Sastia dalam wawancara dengan Kompas.com di sela-sela Simposium Cendikia Kelas Dunia di Jakarta pada 22 Agustus 2019.

Advertisement

Jejak Pendidikan dan Prestasi Akademik

Perjalanan karir Sastia diawali dengan meraih gelar sarjana Biologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2000. Setelah lulus, pada tahun 2004, ia lolos program research fellowship bidang Bioteknologi dari UNESCO selama setahun di Jepang, bekerja sama dengan Profesor Nihira di Osaka University.

Melihat potensi dan kinerjanya, Profesor Nihira kemudian menawarkan Sastia program beasiswa penuh dari pemerintah Jepang untuk melanjutkan studi S2 dan S3. Meskipun awalnya tidak memiliki keinginan untuk menjadi ilmuwan, Sastia menemukan panggilan hidupnya setelah merasakan lingkungan riset yang sangat mendukung dan membuahkan hasil di Jepang.

Sebelum menerima tawaran beasiswa tersebut, Sastia sempat menjadi asisten laboratorium di Swiss German University pada tahun 2005. Riset yang dilakukannya berjalan lancar, bahkan ia berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya lebih cepat dari perkiraan.

Sastia menyelesaikan jenjang S2 dan S3 dalam kurun waktu 3,5 tahun, padahal seharusnya ditempuh dalam 5 tahun. Prestasi ini menjadikannya lulusan pertama yang meraih gelar PhD dalam waktu 1,5 tahun di program Frontier Biotechnology. Setelah lulus, Sastia menerima tawaran dari pembimbingnya untuk menjadi peneliti paruh waktu di institusi tersebut di bawah naungan Profesor Eiichiro Fukusaki, salah seorang pionir metabolomik Ilmu Pangan. Dalam satu tahun, Sastia kemudian menerima tawaran untuk menjadi peneliti penuh waktu dalam proyek kerja sama antara Jepang dan Amerika Serikat.

Informasi ini disampaikan melalui unggahan resmi Sastia Prama Putri di akun Instagram pribadinya pada Kamis, 26 Februari 2026.

Advertisement