Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus menggenjot peningkatan okupansi hunian sementara (huntara) bagi penyintas bencana hidrologis. Langkah ini, dibarengi dengan penyaluran dana tunggu hunian (DTH), menjadi strategi kunci untuk merelokasi pengungsi yang masih bertahan di tenda akibat banjir dan longsor akhir 2025 di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Progres Pembangunan Hunian Sementara dan Tetap
Berdasarkan laporan harian Satgas PRR per 10 Maret 2026, sebanyak 14.725 unit huntara telah rampung di tiga provinsi terdampak. Angka ini mencapai 78 persen dari target total 18.697 unit huntara yang direncanakan.
Aceh mencatat progres pembangunan huntara terbanyak dengan 12.926 unit selesai, atau 76 persen dari target 16.847 unit. Sementara itu, Sumut telah menyelesaikan 969 unit huntara dari 1.020 unit yang ditargetkan, mencapai 95 persen. Sumatera Barat menunjukkan capaian 100 persen dengan 830 unit huntara rampung dari total 830 unit yang direncanakan.
Selain huntara, Satgas PRR juga secara bertahap membangun hunian tetap (huntap). Data per 9 Maret 2026 menunjukkan 1.463 unit huntap sedang dalam progres pembangunan, dengan enam unit di antaranya telah selesai. Pemerintah menargetkan pembangunan 36.669 unit huntap secara keseluruhan.
Penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH)
Sebagai alternatif bagi penyintas yang tidak memilih tinggal di huntara, Satgas PRR telah menyalurkan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH). Bantuan ini diberikan sebesar Rp600.000 per bulan selama tiga bulan, sehingga setiap kepala keluarga (KK) menerima total Rp1,8 juta.
Hingga saat ini, penyaluran DTH telah mencapai 100 persen untuk 12.771 penerima di tiga provinsi. Rincian penerima meliputi 6.846 orang di Aceh, 4.162 orang di Sumut, dan 1.763 orang di Sumbar.
Dampak Strategi pada Pengurangan Pengungsi
Strategi percepatan pembangunan huntara, huntap, dan penyaluran DTH menunjukkan dampak signifikan terhadap penurunan jumlah pengungsi di tenda. Data Satgas PRR per 9 Maret 2026 mencatat penurunan drastis jumlah pengungsi di tenda di tiga provinsi.
Dari semula 2.300 kepala keluarga (KK) pada 8 Maret, angka ini berkurang menjadi 1.872 KK pada 9 Maret, atau terjadi penurunan sebanyak 428 KK. Jumlah tersebut setara dengan 5.963 jiwa pengungsi yang telah direlokasi dari tenda.
Target dan Optimisme Satgas PRR
Juru Bicara Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Amran, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus menurunkan jumlah pengungsi di tenda sebelum Idul Fitri 2026. Pemerintah akan melanjutkan skema rehabilitasi dan rekonstruksi, meliputi peningkatan okupansi huntara, penyaluran DTH, serta pembersihan lumpur.
“Kami optimistis jumlah pengungsi akan terus berkurang dan menempati huntara sehingga kami tidak melihat lagi pengungsi di tenda,” ujar Amran dalam rilis pers yang diterima pada Selasa, 10 Maret 2026.
Informasi lengkap mengenai upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana ini disampaikan melalui pernyataan resmi Satgas PRR Pascabencana Sumatera yang dirilis pada Selasa, 10 Maret 2026.
