Seah Chin Leong (43) secara resmi mengaku bersalah atas empat dakwaan di pengadilan Singapura pada Senin (9/2/2026) terkait rangkaian aksi perusakan dan kekerasan terhadap tetangganya. Konflik yang dipicu oleh persoalan parkir kendaraan di kawasan perumahan Serangoon ini telah berlangsung selama lebih dari satu tahun dan melibatkan berbagai tindakan agresif.
Kronologi Perselisihan dan Aksi Kekerasan
Perselisihan bermula tak lama setelah Seah dan keluarganya pindah ke sebuah rumah tapak di Serangoon pada Juli 2022. Sejak awal 2024, ia terlibat konflik berkepanjangan dengan tetangga sebelah rumahnya karena keberatan dengan mobil yang diparkir di depan kediamannya. Ketegangan pertama memuncak pada 1 Agustus 2024 sekitar pukul 03.00 dini hari saat adu mulut antara Seah dan tetangganya berubah menjadi perkelahian fisik.
Berdasarkan laporan CNA, Seah sempat memukul wajah tetangganya sebelum akhirnya dilerai oleh sang istri. Insiden tersebut mengakibatkan kedua belah pihak terjatuh ke tanah dan Seah harus menjalani pemeriksaan medis akibat luka lecet ringan.
Rangkaian Perusakan Properti dan Teror Verbal
Aksi Seah terus berlanjut pada 5 November 2024, di mana ia terekam melempar dua botol kaca dari lantai dua rumahnya ke arah mobil milik keluarga tetangga. Salah satu botol mengenai bagian belakang kendaraan dan menyebabkan kerugian perbaikan sebesar 894 dollar Singapura. Tak berhenti di situ, pada hari Natal 25 Desember 2024, Seah kembali melakukan perusakan dengan menendang mobil dan melempar batu sambil melontarkan makian dalam bahasa Hokkien.
Pada 22 Februari 2025, konflik kembali memanas ketika Seah membakar kertas sembahyang (joss paper) di dekat mobil tetangganya. Khawatir akan risiko kebakaran, pihak tetangga menyemprotkan air untuk memadamkan api, yang kemudian memicu kemarahan Seah hingga ia merusak gerbang rumah tetangga menggunakan tongkat besi. Biaya perbaikan gerbang tersebut diperkirakan mencapai 1.000 hingga 2.000 dolar Singapura.
Tuntutan Jaksa dan Upaya Perdamaian
Meskipun Seah telah membayar ganti rugi sebesar 3.393,80 dollar Singapura dan menjual rumahnya pada Oktober 2025 untuk menghindari konflik lebih lanjut, proses hukum tetap berjalan. Jaksa penuntut umum menuntut hukuman dua minggu penjara serta denda total 4.500 dollar Singapura sebagai efek jera bagi masyarakat.
| Jenis Kerugian | Estimasi Biaya (SGD) |
|---|---|
| Kerusakan Mobil (Botol Kaca) | 894 |
| Kerusakan Gerbang Besi | 1.000 – 2.000 |
| Total Ganti Rugi Dibayarkan | 3.393,80 |
Jaksa menegaskan bahwa dalam lingkungan masyarakat yang padat, kekerasan terhadap orang maupun properti tidak dapat dibenarkan sebagai solusi konflik antar-tetangga. Sementara itu, pihak pembela memohon keringanan hukuman berupa denda tanpa penjara. Majelis hakim dijadwalkan akan membacakan putusan akhir pada 24 Februari mendatang.
Informasi lengkap mengenai perkembangan kasus hukum ini disampaikan berdasarkan fakta persidangan dan laporan resmi otoritas terkait di Singapura.
