Soroti Keamanan Pangan, Puluhan Siswa di India Keracunan Usai Santap Makan Siang Gratis Sekolah
Kasus dugaan keracunan makanan dalam program makan bergizi gratis (MBG) atau makan siang gratis kembali mencuat di India selatan. Lebih dari 20 siswa sekolah dasar di negara bagian Telangana dilaporkan jatuh sakit setelah mengonsumsi makan siang yang disediakan di sekolah pada Kamis, 30 Januari 2026.
Insiden ini menambah daftar panjang persoalan keamanan pangan dalam program makan siang gratis pemerintah India, yang selama ini digadang-gadang sebagai salah satu program sosial terbesar di dunia. Tak berselang lama, insiden serupa kembali terjadi di wilayah lain di Telangana, melibatkan 32 siswa lainnya.
Kronologi Insiden Keracunan Massal
Peristiwa pertama terjadi di Sekolah Dasar Mandal Parishad, Desa Venkatapur, Distrik Sangareddy, sebagaimana diberitakan Independent pada Jumat (30/1/2026). Para siswa dilarikan ke rumah sakit setelah mengeluhkan berbagai gejala yang mengarah pada dugaan keracunan makanan, mulai dari sakit perut, mual, hingga muntah.
Sejumlah tenaga medis menyebut kondisi para siswa saat ini stabil dan masih dalam pengawasan. Dugaan awal mengarah pada kelalaian dalam pengelolaan makanan, di mana staf sekolah diduga memanaskan kembali makanan sisa dari sebuah acara lokal dan menyajikannya sebagai menu makan siang.
Pada Jumat (30/1/2026), insiden serupa kembali terjadi di Bodiya Thanda, Konijerla Mandal, Distrik Khammam. Sebanyak 32 siswa Sekolah Dasar Negeri juga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makan siang di sekolah, mengeluhkan sakit perut, muntah, dan diare, hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pemerintah Khammam.
Respons Otoritas dan Penyelidikan
Pihak berwenang setempat bergerak cepat menyikapi rangkaian insiden tersebut. Aparat kepolisian dan pejabat pendidikan daerah langsung melakukan penyelidikan untuk memastikan sumber kontaminasi makanan.
Dalam salah satu kasus di Distrik Sangareddy, seorang anggota staf yang terlibat dalam persiapan makan siang sekolah dilaporkan telah diberhentikan sementara dari jabatannya. “Sekitar 22 siswa dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi nasi dan sambal saat makan siang,” ujar seorang petugas kepolisian Narayankhed, seperti dikutip stasiun televisi lokal NDTV pada Jumat (30/1/2026).
Pejabat Pendidikan Distrik juga mengeluarkan surat peringatan resmi kepada kepala sekolah terkait dugaan lemahnya pengawasan dalam proses penyediaan makanan. Otoritas menilai kepala sekolah memiliki tanggung jawab langsung untuk memastikan makanan yang dikonsumsi siswa aman dan layak.
Para orang tua siswa yang mendengar kabar anak-anak mereka jatuh sakit bergegas mendatangi rumah sakit. Mereka menyuarakan kekhawatiran mendalam sekaligus menuntut pemerintah negara bagian agar mengambil langkah tegas untuk menghentikan insiden keracunan makanan yang dinilai kerap berulang di sekolah-sekolah negeri.
Sorotan Terhadap Program Makan Siang Gratis India
Kasus di Telangana ini menjadi sorotan karena terjadi dalam kerangka program makan siang gratis pemerintah India, salah satu program pangan sekolah terbesar di dunia. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak, mendorong angka kehadiran di sekolah, serta menekan tingkat putus sekolah, terutama di kalangan masyarakat miskin.
Saat ini, program makan siang gratis India menjangkau sekitar 120 juta anak di lebih dari satu juta sekolah di seluruh negeri. Namun, skala yang masif juga menghadirkan tantangan besar dalam hal pengawasan kualitas dan keamanan makanan.
Data Program Pengawasan Penyakit Terpadu mencatat, pada 2022 terdapat sedikitnya 979 korban keracunan makanan di sekolah-sekolah India. Sementara pada 2025, Komisi Hak Asasi Manusia India bahkan meluncurkan penyelidikan khusus setelah lebih dari 100 anak jatuh sakit akibat makan siang sekolah yang dilaporkan terkontaminasi bangkai ular di Desa Mokama, dekat Patna, Negara Bagian Bihar.
Refleksi di Indonesia dan Tantangan Global
Fenomena serupa juga pernah terjadi di Indonesia. Pada tahun lalu, lebih dari 5.000 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dalam program makan bergizi gratis, inisiatif pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan penyediaan makanan bergizi bagi sekitar 80 juta anak sekolah.
Rangkaian kasus di berbagai negara ini menunjukkan bahwa program makan gratis di sekolah, meski memiliki tujuan mulia, membutuhkan sistem pengawasan yang ketat, berlapis, dan berkelanjutan. Tanpa kontrol kualitas yang memadai, program yang seharusnya melindungi dan menyehatkan anak-anak justru berpotensi membahayakan keselamatan mereka.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan media lokal Telangana Today, Independent, dan NDTV yang dirilis pada Jumat, 30 Januari 2026.