Berita

Soroti Ketegangan AS-Iran, Turkiye dan Qatar Aktif Dorong Dialog untuk Cegah Eskalasi Konflik

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman serangan militer terhadap Teheran. Di tengah situasi yang kian genting, sejumlah negara dan organisasi internasional mulai mengambil peran diplomatik untuk mencegah eskalasi konflik terbuka. Turkiye dan Qatar muncul sebagai aktor regional yang aktif menawarkan jalur dialog, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak kedua pihak menahan diri.

Turkiye Siap Jadi Penengah Konflik AS-Iran

Pemerintah Turkiye secara resmi menyatakan kesiapan mereka untuk menjadi mediator antara Washington dan Teheran. Tawaran ini disampaikan menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Ankara pada Jumat, 30 Januari 2026.

Sumber diplomatik Turkiye mengungkapkan, Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan akan menyampaikan kepada Araghchi bahwa Ankara siap berkontribusi dalam meredakan ketegangan melalui dialog. Turkiye juga menegaskan penolakannya terhadap opsi militer terhadap Iran, mengingat risiko dampak serius secara regional maupun global.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Fidan menyarankan agar AS dan Iran menyelesaikan persoalan secara bertahap, dimulai dari isu nuklir. Pendekatan ini dinilai lebih realistis ketimbang membahas seluruh persoalan sekaligus.

Direktur Pusat Studi Iran (IRAM) di Ankara, Serhan Afacan, mengatakan sikap tersebut sejalan dengan pandangan Teheran. Menurutnya, Iran terbuka untuk berunding jika pembahasan difokuskan pada isu nuklir.

“Jika Trump mengundang Iran untuk mencapai kesepakatan soal nuklir, mereka kemungkinan akan menyetujuinya. Tetapi jika semua isu dimasukkan dalam satu paket, itu akan sulit,” ujar Afacan.

Afacan menambahkan, program rudal balistik masih menjadi garis merah Iran karena merupakan inti dari sistem pertahanannya. Meski begitu, kompromi tetap mungkin terjadi melalui perundingan panjang, asalkan kekhawatiran keamanan Iran, terutama terkait AS dan Israel, dapat diakomodasi.

Qatar dan PBB Dorong Deeskalasi

Selain Turkiye, Qatar juga mengambil langkah diplomatik. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah membahas upaya deeskalasi ketegangan kawasan dalam percakapan telepon pada Kamis, 29 Januari 2026, sebagaimana dilansir AFP.

Kantor Berita Qatar (QNA) melaporkan, kedua pemimpin menyoroti situasi regional terkini serta berbagai upaya untuk menurunkan ketegangan dan menjaga stabilitas.

Dari panggung global, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan dialog untuk mencegah krisis yang lebih luas. Ia menegaskan pentingnya diplomasi, khususnya terkait isu nuklir Iran, guna menghindari konsekuensi yang dapat berdampak menghancurkan kawasan Timur Tengah.

Ancaman Militer AS dan Antisipasi Keamanan Regional

Ketegangan AS-Iran meningkat setelah Presiden Trump mengancam akan melancarkan serangan militer menyusul penindakan keras terhadap demonstrasi di Iran bulan ini serta mandeknya kesepakatan nuklir. Amerika Serikat bahkan dilaporkan telah menempatkan satu gugus tempur kapal induk di kawasan Timur Tengah, dengan Trump menyatakan pasukannya “siap dan mampu” menyerang Iran bila diperlukan.

Di sisi lain, Turkiye juga menyiapkan langkah antisipasi keamanan. Pemerintah Ankara tengah menilai kemungkinan memperketat pengamanan di sepanjang perbatasannya dengan Iran jika konflik berkembang menjadi serangan militer. Opsi yang dipertimbangkan antara lain penambahan pasukan dan peningkatan sistem pengawasan teknologi.

Meskipun belum terlihat adanya gelombang migrasi besar dari Iran, Turkiye menilai eskalasi konflik berpotensi menimbulkan masalah keamanan serius, termasuk arus pengungsi lintas batas.

Informasi lengkap mengenai upaya mediasi dan situasi terkini disampaikan melalui berbagai pernyataan resmi dari pihak terkait serta laporan media internasional.