Berita

Soroti Peningkatan Gangguan Mental Global: Ketahui Cara Mengelola Stres dan Pentingnya Perawatan Diri

Tantangan hidup, mulai dari tekanan kecil hingga krisis besar, secara langsung memengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang. Terlebih bagi individu yang harus menyeimbangkan target pendidikan dan tuntutan karier secara bersamaan, tekanan untuk terus produktif sering kali mengabaikan kebutuhan diri. Padahal, kesehatan mental merupakan fondasi esensial bagi kualitas hidup secara menyeluruh, bukan sekadar upaya bertahan, melainkan strategi menjaga keseimbangan hidup dan meningkatkan produktivitas.

Dampak Kesehatan Mental dalam Kehidupan Sehari-hari

National Institute of Mental Health (NIMH) mencatat bahwa satu dari lima orang dewasa di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental tingkat sedang hingga berat. Sementara itu, Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA) mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial individu.

Dr. Eric Jett, seorang konselor berlisensi sekaligus direktur senior program konseling di Southern New Hampshire University (SNHU), menjelaskan bahwa kesehatan mental yang baik memungkinkan seseorang menghadapi peristiwa hidup secara bertahap dan proporsional. Kondisi mental yang positif membantu individu mengenali emosi, menjalankan tugas harian, menjaga hubungan interpersonal, serta terlibat dalam aktivitas bermakna.

Gangguan kesehatan mental yang serius berpotensi memengaruhi hubungan sosial, capaian akademik, karier, hingga tujuan hidup jangka panjang. Peningkatan prevalensi gangguan mental secara global menjadikan penanganan dini sebagai langkah krusial yang dapat membawa perubahan signifikan, bahkan menyelamatkan kehidupan, sebagaimana dikutip dari laman SNHU.

Pentingnya Kesehatan Mental bagi Mahasiswa

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lonjakan kasus gangguan kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir, dengan pandemi Covid-19 memperparah kondisi tersebut di berbagai negara. Mahasiswa menjadi kelompok yang sangat rentan karena harus menghadapi tuntutan akademik, tekanan sosial, dan perencanaan masa depan secara bersamaan.

Sebelum pandemi, isu kesehatan mental telah menjadi perhatian serius di lingkungan kampus. National College Health Assessment (NCHA) tahun 2019 menunjukkan bahwa 20,2 persen mahasiswa mengalami depresi dan 27,8 persen mengalami kecemasan yang berdampak pada studi mereka dalam satu tahun sebelumnya. Kelelahan, rasa kesepian, dan perasaan kewalahan menjadi keluhan yang paling sering dilaporkan.

Dr. Jett menjelaskan bahwa tekanan akademik dan tanggung jawab hidup lainnya dapat membuat masa kuliah terasa melelahkan. Meskipun stres dalam batas tertentu adalah respons wajar, pengelolaan stres yang sehat menjadi kunci agar tekanan tersebut tidak berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.

Strategi Mengelola Stres secara Sehat

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan sejumlah langkah sederhana untuk mengelola stres secara efektif:

  • Kualitas tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga stabilitas emosi dan konsentrasi.
  • Penghindaran alkohol serta penyalahgunaan zat membantu mencegah dampak negatif lanjutan terhadap kesehatan mental.
  • Hubungan sosial yang sehat memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan saat menghadapi tekanan.
  • Pola makan seimbang dan aktivitas fisik rutin berkontribusi pada kesejahteraan fisik sekaligus mental.
  • Meditasi dan praktik perawatan diri membantu individu mengenali serta merespons stres dengan lebih adaptif.

Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang kesehatan mental, Dr. Jett menekankan pentingnya refleksi diri terkait kebutuhan hidup. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, menetapkan batasan, mengungkapkan kebutuhan, serta melepaskan standar yang tidak realistis berkontribusi positif terhadap kesehatan mental. Keberanian mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan psikologis.

Pencarian bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, layaknya mencari perawatan medis untuk keluhan fisik. Penyampaian kebutuhan kesehatan mental secara terbuka membantu lingkungan sekitar memberikan dukungan yang lebih tepat. Banyak kampus atau perguruan tinggi kini menyediakan layanan kesehatan mental gratis bagi mahasiswa sebagai bagian dari dukungan akademik. Mahasiswa dianjurkan aktif mencari informasi mengenai layanan ini ketika menghadapi kesulitan psikologis.

Informasi lengkap mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental ini disampaikan melalui berbagai rujukan, termasuk National Institute of Mental Health (NIMH), Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), National College Health Assessment (NCHA), serta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), dan penjelasan dari Dr. Eric Jett dari SNHU.