Statistik Ekonomi 2025: Pengangguran Terendah Satu Dekade, OJK Catat 18 Juta Pekerja Terjerat Pinjaman Online
Rabu, 04 Februari 2026 – Di tengah laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025 sebagai salah satu yang terendah dalam satu dekade terakhir, sebuah ironi finansial justru membayangi jutaan rumah tangga pekerja di Indonesia. Pinjaman online (pinjol) yang kerap dipersepsikan sebagai masalah perilaku individu, kini justru menjadi mekanisme bertahan hidup bagi lebih dari 18 juta peminjam aktif, menandai rapuhnya fondasi kesejahteraan ekonomi.
Paradoks di Balik Angka Makro Ekonomi
BPS melaporkan tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025 berada di kisaran 4,7 persen. Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dalam indikator ketenagakerjaan nasional.
Namun, di balik statistik yang membaik, tekanan hidup justru dirasakan semakin berat oleh banyak rumah tangga pekerja. Harga pangan yang bergejolak, kenaikan biaya transportasi, dan sewa hunian yang terus meningkat menjadi beban nyata, sementara pertumbuhan pendapatan berjalan lebih lambat.
Pinjaman Online: Mekanisme Bertahan Hidup, Bukan Sekadar Perilaku Konsumtif
Pinjaman online seringkali dipersepsikan sebagai masalah perilaku individu, seperti utang konsumtif atau keputusan finansial yang ceroboh. Narasi ini menempatkan tanggung jawab sepenuhnya pada peminjam.
Faktanya, skala fenomena ini menunjukkan persoalan yang jauh lebih struktural. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah peminjam aktif pinjaman daring telah melampaui 18 juta orang pada tahun 2025, dengan nilai outstanding pinjaman sekitar Rp90 triliun.
Angka tersebut terlalu besar untuk dipahami sebagai penyimpangan segelintir orang, melainkan mencerminkan pola bertahan hidup yang semakin jamak di masyarakat.
Pekerja Produktif Rentan, Sektor Informal Dominan
Profil pengguna pinjaman daring juga memberi petunjuk penting. Data OJK dan publikasi terkait menunjukkan dominasi kelompok usia produktif dalam penggunaan pinjol.
Ini berarti mayoritas peminjam adalah orang-orang yang bekerja dan memiliki penghasilan, menantang asumsi bahwa bekerja otomatis berarti aman secara ekonomi. Bagi banyak kasus, bekerja hanya cukup untuk menjaga seseorang tetap berada di atas garis kemiskinan, bukan untuk menyerap guncangan finansial.
Struktur pasar kerja Indonesia memperjelas gambaran tersebut, dengan BPS mencatat sekitar 59 persen pekerja masih berada di sektor informal. Pekerjaan di sektor ini umumnya ditandai oleh pendapatan yang fluktuatif, ketiadaan kontrak kerja yang kuat, dan minimnya perlindungan sosial.
Secara statistik mereka tercatat sebagai bekerja, tetapi secara ekonomi berada dalam posisi yang rapuh. Tingginya proporsi pekerja informal menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja belum sepenuhnya diiringi oleh peningkatan kualitas kerja.
Upah Tertinggal, Perlindungan Sosial Minim
Tekanan ini semakin kuat ketika dikaitkan dengan dinamika upah dan biaya hidup. Dalam beberapa tahun terakhir, upah riil bergerak lebih lambat dibanding kenaikan harga kebutuhan dasar.
Pada saat yang sama, struktur pengeluaran rumah tangga memperlihatkan bahwa sebagian besar pendapatan terserap untuk konsumsi rutin, dengan porsi tabungan yang relatif kecil. Ruang untuk mengantisipasi kejutan finansial hampir tidak tersedia.
Dalam kondisi defisit arus kas yang menjadi keseharian, pinjaman online masuk sebagai mekanisme penyesuaian jangka pendek. Berbagai studi independen menunjukkan bahwa pinjaman daring kerap dimanfaatkan saat rumah tangga menghadapi tekanan yang tidak bisa ditunda.
Fungsi ini semakin relevan ketika perlindungan sosial belum menjangkau mayoritas pekerja. Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di kalangan pekerja informal masih terbatas, meninggalkan jutaan pekerja tanpa jaminan kecelakaan kerja, hari tua, maupun kehilangan pekerjaan.
Dalam kekosongan inilah pinjaman online berfungsi sebagai semacam perlindungan sosial bayangan—cepat, tetapi mahal dan berisiko.
Implikasi Kebijakan dan Tantangan Kesejahteraan
Masalahnya, mekanisme pinjaman online ini bersifat sementara dan berulang. Cicilan pinjaman menyedot pendapatan bulan berikutnya, mempersempit ruang konsumsi, dan meningkatkan kemungkinan berutang kembali. Dalam jangka pendek, konsumsi memang terjaga, namun dalam jangka menengah, kerentanan justru menumpuk.
Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kesejahteraan diukur. Statistik kemiskinan Indonesia yang berbasis pada pengeluaran per kapita, menganggap rumah tangga tidak miskin selama konsumsi berada di atas garis kemiskinan, meskipun kondisi keuangannya rapuh dan bergantung pada utang.
Paradoks inilah yang menjelaskan mengapa perbaikan indikator makro tidak selalu sejalan dengan rasa aman masyarakat. Pinjaman online tidak menciptakan kerentanan tersebut, tetapi membuatnya tidak langsung tercermin dalam angka resmi, menjaga statistik tetap rapi sembari menyimpan masalah di tingkat rumah tangga.
Implikasi kebijakan dari kondisi ini cukup jelas. Penertiban pinjol ilegal, pengawasan bunga, dan penguatan perlindungan konsumen tetap penting. Namun, kebijakan tersebut hanya menyentuh permukaan masalah.
Selama pasar kerja masih didominasi pekerjaan berupah rendah dan informal, upah riil tertinggal dari biaya hidup, dan jaminan sosial belum menjangkau mayoritas pekerja, permintaan terhadap pinjaman online akan terus tinggi.
Pada akhirnya, bekerja memang mencegah seseorang langsung jatuh miskin. Namun bagi jutaan pekerja, bekerja belum cukup untuk bertahan tanpa berutang. Ironi ini akan terus berulang selama keberhasilan ketenagakerjaan masih diukur dari banyaknya orang yang bekerja, bukan dari kemampuan pekerjaan tersebut menopang kehidupan secara layak.
Informasi lengkap mengenai dinamika ekonomi dan profil peminjam pinjaman online ini disampaikan melalui data resmi dari Badan Pusat Statistik dan Otoritas Jasa Keuangan yang dirilis secara berkala.