Finansial

Steven Spielberg Pindah ke New York di Tengah Wacana Pajak Miliarder California, Ini Kata Perwakilan

Advertisement

Sutradara Hollywood ternama, Steven Spielberg, resmi memindahkan domisilinya dari California ke New York pada 1 Januari 2026. Perpindahan ini terjadi di tengah perdebatan sengit mengenai rencana pajak kekayaan miliarder di California yang dikenal sebagai California Billionaire Tax Act 2026. Wacana ini memicu diskusi luas tentang dampaknya terhadap iklim investasi dan potensi relokasi para individu super kaya dari negara bagian tersebut.

Relokasi Spielberg dan Klarifikasi Resmi

Dikutip dari Fox Business pada Minggu (22/2/2026), Steven Spielberg dan istrinya, Kate Capshaw, kini menetap di New York. Mereka juga telah membuka kantor baru untuk perusahaan produksinya, Amblin Entertainment, di Manhattan.

Namun, perwakilan Spielberg membantah perpindahan tersebut terkait dengan rencana pajak kekayaan. Terry Press, juru bicara Spielberg, mengatakan keputusan itu murni bersifat personal. Ia menyebut, Spielberg ingin lebih dekat dengan anak dan cucunya yang tinggal di New York. Press juga menolak mengomentari posisi Spielberg terkait wacana pajak miliarder tersebut.

Kekayaan bersih Spielberg diperkirakan sekitar 7,1 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 119,72 triliun (asumsi kurs Rp 16.862 per dollar AS). Jika skema pajak 5 persen atas kekayaan bersih diberlakukan, potensi kewajiban pajaknya bisa mencapai sekitar 355 juta dollar AS atau setara sekitar Rp 5,99 triliun.

Isi Rancangan California Billionaire Tax Act 2026

Rencana pajak tersebut diusulkan oleh SEIU-United Healthcare Workers West (SEIU-UHW). Proposal itu mengusulkan pajak satu kali sebesar 5 persen atas total kekayaan bersih individu yang memiliki kekayaan lebih dari 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16,86 triliun pada 1 Januari 2026.

Jika disetujui melalui mekanisme pemungutan suara publik, pajak tersebut akan mulai berlaku pada 2027. Dokumen ringkasan inisiatif yang dipublikasikan Kantor Jaksa Agung California menyebut total kekayaan para miliarder di negara bagian itu diperkirakan mencapai sekitar 2 triliun dollar AS atau setara sekitar Rp 33.724 triliun.

Pendukung inisiatif tersebut menyatakan dana yang terkumpul akan dialokasikan terutama untuk layanan kesehatan publik, pendidikan, dan bantuan pangan. Proposal ini diproyeksikan dapat menghasilkan sekitar 20 miliar dollar AS per tahun atau sekitar Rp 337,24 triliun. Dalam lima tahun, potensi penerimaan bisa mencapai 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.686 triliun.

Penolakan Gubernur California

Gubernur California Gavin Newsom secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap usulan pajak tersebut. Dikutip dari Fortune, Newsom memperingatkan bahwa pajak kekayaan dapat berdampak negatif terhadap daya saing ekonomi California.

Ia menilai kebijakan tersebut berisiko mendorong relokasi individu kaya dan melemahkan basis pajak negara bagian. Newsom menyebut, California sudah sangat bergantung pada pajak dari kelompok berpenghasilan tinggi. Menurut sejumlah laporan, sekitar setengah dari penerimaan pajak penghasilan pribadi California berasal dari 1 persen pembayar pajak tertinggi. Kekhawatiran pemerintah negara bagian adalah jika sebagian kelompok tersebut memindahkan domisili pajaknya, penerimaan negara bagian bisa tergerus sebelum pajak baru itu sendiri diterapkan.

Advertisement

Klaim Potensi “Eksodus Kekayaan”

National Taxpayers Union Foundation (NTUF) dalam analisisnya menyebut wacana pajak kekayaan telah memicu perpindahan kekayaan dalam jumlah besar dari California. NTUF menyebut sekitar 1 triliun dollar AS atau setara sekitar Rp 16.862 triliun kekayaan telah berpindah atau berencana keluar dari California bahkan sebelum kebijakan tersebut disahkan.

Angka tersebut merujuk pada relokasi individu dan perusahaan yang mempertimbangkan beban pajak jangka panjang. Sejumlah tokoh teknologi dan investor besar dikabarkan memindahkan atau mempertimbangkan memindahkan basis tempat tinggalnya ke negara bagian lain seperti Florida dan Texas, yang tidak mengenakan pajak penghasilan negara bagian. MarketWatch melaporkan pembelian properti mewah di Miami oleh sejumlah miliarder teknologi, termasuk laporan bahwa pendiri dan CEO Meta Mark Zuckerberg membeli properti bernilai antara 150 juta dollar AS hingga 200 juta dollar AS, atau sekitar Rp 2,53 triliun hingga Rp 3,37 triliun.

Dukungan dari Politisi Progresif

Di sisi lain, sejumlah politisi progresif mendukung pajak kekayaan sebagai instrumen untuk mengurangi ketimpangan ekonomi. Senator Bernie Sanders dalam sebuah rally di Los Angeles menyatakan, konsentrasi kekayaan ekstrem merupakan persoalan struktural dalam ekonomi AS.

“Kita tidak bisa memiliki demokrasi ketika begitu sedikit orang memiliki begitu banyak dan begitu banyak orang memiliki begitu sedikit,” ujar Sanders, dikutip dari The Guardian. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang menurutnya dapat memperkuat layanan publik. Pendukung pajak kekayaan berargumen, kontribusi tambahan dari kelompok miliarder akan membantu menutup kesenjangan pendanaan layanan kesehatan dan pendidikan, terutama setelah adanya pemotongan dana federal di beberapa sektor.

Pergeseran Basis Ekonomi Negara Bagian

Perdebatan ini mencerminkan dilema fiskal yang lebih luas di AS, yakni bagaimana menyeimbangkan kebutuhan pendanaan layanan publik dengan menjaga daya tarik investasi dan tempat tinggal bagi individu berpenghasilan sangat tinggi. California selama ini dikenal sebagai pusat industri teknologi dan hiburan global. Namun, sejumlah laporan menunjukkan tren perpindahan perusahaan dan individu ke negara bagian dengan struktur pajak lebih ringan.

Proses pengumpulan tanda tangan dan kemungkinan pemungutan suara publik terhadap California Billionaire Tax Act 2026 masih berlangsung. Keputusan akhir berada di tangan pemilih California.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan Fox Business, Fortune, National Taxpayers Union Foundation, MarketWatch, dan The Guardian yang dirilis pada Minggu, 22 Februari 2026.

Advertisement