Sebuah tinjauan luas (umbrella review) yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine mengonfirmasi bahwa aktivitas fisik merupakan salah satu metode paling efektif untuk meredakan gejala depresi dan kecemasan. Penelitian ini menunjukkan bahwa olahraga yang meningkatkan detak jantung, seperti lari, berenang, dan menari, memiliki efektivitas yang sebanding dengan terapi psikologis maupun pengobatan medis.
Analisis Skala Besar British Journal of Sports Medicine
Para peneliti melakukan analisis mendalam terhadap ratusan studi yang melibatkan puluhan ribu partisipan dari berbagai rentang usia hingga Juli 2025. Fokus utama penelitian ini adalah mengevaluasi dampak berbagai jenis dan intensitas latihan terhadap kesehatan mental secara menyeluruh, guna mendapatkan gambaran yang lebih valid dibandingkan studi-studi terdahulu yang seringkali terbatas pada kelompok tertentu.
Data menunjukkan bahwa depresi dan kecemasan memengaruhi hingga satu dari empat orang di tingkat global, dengan prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia muda dan perempuan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga memicu penurunan produktivitas serta peningkatan risiko penyakit fisik secara signifikan.
Dampak Signifikan pada Gejala Depresi dan Kecemasan
Dalam tinjauan terhadap 800 studi individu yang melibatkan 57.930 peserta berusia 10 hingga 90 tahun, ditemukan bahwa olahraga memberikan penurunan gejala depresi dalam kategori sedang. Hasil penelitian menyoroti beberapa poin penting terkait efektivitas aktivitas fisik:
- Efek paling kuat terlihat pada dewasa muda usia 18 hingga 30 tahun serta perempuan yang baru melahirkan.
- Aktivitas aerobik yang dilakukan dalam format berkelompok atau di bawah pengawasan instruktur menghasilkan dampak paling besar bagi penderita depresi.
- Untuk kecemasan, program olahraga dengan intensitas lebih rendah yang berlangsung hingga delapan minggu menunjukkan efek peredaan paling signifikan.
Keunggulan Dibandingkan Terapi Konvensional
Salah satu kesimpulan utama dari studi ini adalah bahwa semua bentuk olahraga yang diteliti menunjukkan efektivitas yang sebanding, dan dalam beberapa kasus melampaui, terapi psikologis serta pengobatan farmakologis. Manfaat ini terlihat konsisten pada berbagai kelompok usia, baik pada laki-laki maupun perempuan.
Peneliti juga menekankan pentingnya aspek sosial dalam pemulihan kesehatan mental. Program yang dilakukan secara berkelompok tampak memberikan manfaat lebih besar, yang mengisyaratkan bahwa interaksi sosial dan dukungan lingkungan turut berperan dalam memperbaiki kondisi psikologis peserta.
Strategi Intervensi Lini Pertama
Temuan ini mempertegas bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran tubuh, melainkan strategi ilmiah yang efektif, murah, dan mudah diakses. Selain memperbaiki kesehatan mental, olahraga memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan jantung, metabolisme, dan kualitas tidur.
Dengan efektivitas yang tinggi dan minim efek samping, olahraga berpotensi menjadi pilihan intervensi lini pertama, terutama di wilayah dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan mental profesional. Para peneliti menyarankan aktivitas rutin seperti berjalan cepat, berenang, atau mengikuti kelas yoga sebagai langkah awal yang berarti untuk menjaga kesehatan mental jangka panjang.
