Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam The Planetary Science Journal mengungkap hipotesis baru mengenai asal-usul Titan, bulan terbesar milik planet Saturnus. Para peneliti dari SETI Institute menduga bahwa Titan tidak terbentuk miliaran tahun lalu, melainkan lahir sekitar 400 juta tahun silam akibat tabrakan dahsyat antara dua bulan berukuran besar.
Temuan ini menantang teori lama yang menyebutkan bahwa Titan terbentuk melalui proses akresi atau penggabungan debu dan batuan secara bertahap di awal pembentukan tata surya. Jika terbukti benar, peristiwa kosmik ini tidak hanya menjelaskan kelahiran Titan, tetapi juga memberikan jawaban atas berbagai misteri di sistem Saturnus, termasuk asal-usul cincin ikoniknya.
Karakteristik Unik Titan di Tata Surya
Titan merupakan satelit alami terbesar kedua di tata surya setelah Ganymede milik Jupiter, dengan diameter mencapai 5.150 kilometer. Ukuran ini menjadikannya lebih besar dari planet Merkurius dan sekitar 1,5 kali lebih besar dibandingkan Bulan milik Bumi.
Selain ukurannya yang masif, Titan memiliki atmosfer tebal yang didominasi oleh nitrogen dengan kepadatan 1,5 kali atmosfer Bumi. Titan juga menjadi satu-satunya benda langit selain Bumi yang memiliki cairan stabil di permukaannya berupa metana, yang menjadikannya objek penelitian utama dalam pencarian tanda-tanda kehidupan di luar angkasa.
Hipotesis Tabrakan Proto-Titan dan Proto-Hyperion
Berdasarkan analisis data dari wahana antariksa Cassini, tim peneliti yang dipimpin oleh Matija Ćuk dari SETI Institute mengusulkan skenario tabrakan antara dua objek yang mereka sebut sebagai Proto-Titan dan Proto-Hyperion. Tabrakan ini diduga terjadi karena adanya gangguan gravitasi yang membuat orbit bulan-bulan tersebut menjadi tidak stabil.
“Kami menyadari bahwa hubungan resonansi Titan-Hyperion ini relatif muda, hanya berusia beberapa ratus juta tahun. Periode ini bertepatan dengan waktu ketika bulan tambahan itu menghilang,” ujar Matija Ćuk dalam laporannya. Peneliti menduga bulan kecil bernama Hyperion merupakan puing sisa dari benturan besar tersebut.
Kaitan dengan Pembentukan Cincin Saturnus
Hipotesis ini juga memberikan perspektif baru mengenai usia cincin Saturnus yang diperkirakan terbentuk sekitar 100 juta tahun lalu. Rangkaian tabrakan yang melibatkan bulan-bulan kecil pasca-terbentuknya Titan menciptakan medan puing yang kemudian menyusun struktur cincin yang kita lihat saat ini.
Selain itu, peristiwa besar ini dapat menjelaskan mengapa permukaan Titan memiliki kawah yang relatif sedikit dibandingkan bulan-bulan tua lainnya. Dengan usia yang baru mencapai 400 juta tahun, Titan memiliki waktu yang lebih singkat untuk mengalami hantaman meteorit, sehingga permukaannya tampak lebih muda secara geologis.
Misi Dragonfly dan Pembuktian Masa Depan
Untuk menguji kebenaran teori ini, NASA tengah mempersiapkan misi Dragonfly yang dijadwalkan meluncur pada tahun 2028. Wahana berbentuk drone ini diperkirakan akan tiba di Titan pada tahun 2034 untuk melakukan eksplorasi langsung di permukaan satelit tersebut.
Misi Dragonfly akan mempelajari komposisi kimia, geologi, serta potensi habitabilitas Titan secara mendalam. Data yang diperoleh nantinya diharapkan dapat mengonfirmasi apakah Titan benar-benar hasil dari tabrakan kosmik raksasa atau memiliki sejarah pembentukan yang berbeda.
