Lembaga Survei Median merilis hasil temuan persepsi publik di media sosial terkait potensi bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (BoP) yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Survei yang dipaparkan pada Senin (23/2/2026) ini menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni 55,7%, masih percaya Indonesia akan tetap konsisten membela Palestina meskipun bergabung dengan Dewan Perdamaian tersebut.
Metodologi Survei Median
Survei ini dilaksanakan dalam periode 10-14 Februari 2026, melibatkan 1.200 responden yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Direktur Riset Lembaga Survei Median, Ade Irfan Abdurahman, menjelaskan bahwa metode survei menggunakan kuesioner berbasis Google Form yang disebar ke pengguna aktif media sosial berusia 17 hingga 60 tahun ke atas.
“Kami membuat pertanyaan-pertanyaan di dalam Google Form. Kemudian kami sebaarkan kami blasting ke provinsi-provinsi yang ada. Setelah itu kami menerima respons dari mereka dan bagi mereka yang memberikan jawaban kami melakukan kontak lagi untuk memastikan kesesuaian isi,” ujar Ade Irfan Abdurahman saat memaparkan metode penelitian.
Secara demografi, proporsi responden laki-laki adalah 50,6% dan perempuan 49,4%. Responden terbanyak berasal dari Pulau Jawa, dengan proporsi 40,2%.
Mayoritas Percaya Konsistensi Bela Palestina
Direktur Eksekutif Riset Lembaga Survei Median, Rico Marbun, memaparkan bahwa 55,7% responden percaya pemerintah Indonesia akan tetap konsisten membela Palestina meskipun tergabung dalam Board of Peace. Rico menilai, kepercayaan ini merupakan modal sosial yang penting bagi pemerintah.
“Pemerintah masih memiliki modal kepercayaan yang cukup: Sebanyak 55,7% Percaya pemerintah tetap akan konsisten bela Palestina meski tergabung BoP, ini tentu perlu dimanfaatkan sebaik mungkin,” kata Rico.
Ia menambahkan, “Pemerintah ini sebenarnya masih punya modal sosial yang cukup ya sebagai pemerintahnya. Modal sosial yang cukup untuk melakukan adjustment atau perbaikan terhadap situasi.”
Rico menegaskan, “Jadi kalau kita melihat bahwa ada tendensi yang cukup negatif begitu, tetapi ternyata masih ada sekitar 55,7 persen yang percaya pemerintah itu masih konsisten, begitu ya, untuk membela Palestina meskipun bergabung dengan Board of Peace.”
Penolakan dan Dukungan Bergabung Board of Peace
Temuan survei juga menunjukkan bahwa 50,4% responden menyatakan tidak setuju jika Indonesia bergabung ke dalam Board of Peace. Penolakan ini didorong oleh beberapa kekhawatiran utama:
- Dominasi Amerika/Israel (14,6%)
- Keberatan terhadap biaya iuran sebesar 17 triliun rupiah (9,6%)
- Keadaan Palestina yang belum merdeka (6,8%)
Di sisi lain, 34,8% responden menyatakan setuju Indonesia bergabung BoP. Alasan utama dukungan tersebut meliputi:
- Demi kemerdekaan Palestina (15%)
- Memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional (10,2%)
- Upaya perdamaian dunia (9,2%)
Sikap Publik Terhadap Iuran dan Pengiriman Pasukan
Survei Median juga menyoroti sikap responden terkait aspek finansial dan militer. Sebanyak 73,3% responden menyatakan tidak setuju jika Indonesia membayar iuran keanggotaan Board of Peace senilai USD 1 miliar atau setara Rp 17 triliun. Hanya 23,1% responden yang menyatakan setuju, sementara 3,6% tidak menjawab.
Mengenai potensi pengiriman pasukan Indonesia, hasil survei menunjukkan opini yang terbagi. Sebanyak 36,4% responden menyatakan setuju, sedangkan 36,6% tidak setuju. Sisanya, 27% responden menyatakan tidak tahu atau ragu-ragu.
Informasi lengkap mengenai hasil survei persepsi publik terkait Board of Peace dan konsistensi Indonesia membela Palestina ini disampaikan melalui pemaparan resmi Lembaga Survei Median pada Senin, 23 Februari 2026.
