Syamsun Ramli (48), seorang awardee Beasiswa Penyandang Disabilitas LPDP, kini tengah menempuh studi S3 Arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB). Perjalanan Ramli menuju jenjang pendidikan tertinggi ini diwarnai perjuangan luar biasa, termasuk kelumpuhan akibat kecelakaan panjat tebing pada tahun 1998 dan masa delapan tahun tanpa pekerjaan.
Kecelakaan dan Perjuangan Awal
Ramli mengawali perkuliahan S1 sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) jurusan Teknik Sipil pada tahun 1998. Kala itu, saat baru semester 2 dan tergabung dalam kegiatan mahasiswa pencinta alam, Ramli terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter saat latihan panjat tebing untuk persiapan ekspedisi.
Akibat insiden tersebut, empat ruas tulang belakang Ramli di bagian torakal (T5–T8) terganggu. Ia pun mengalami paraplegia atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah. Kendati punya kondisi tersebut, Ramli mula-mula tidak mau menggunakan kursi roda karena alat bantu itu terasa seperti akhir dari segalanya.
Seiring waktu, ia menyadari untuk bersyukur lantaran masih diberi hidup. “Setelah dipikirkan lama, ini adalah anugerah Tuhan. Saya diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,” ujar Ramli, dikutip dari situs ITB, Sabtu (21/2/2026). Selama hampir 10 tahun, ia tidak dapat duduk, berpindah tempat, dan aktivitas sehari-hari pun sangat bergantung pada orang lain. Ibunya pun setiap hari melatihnya berjalan dengan harapan sang anak dapat kembali berjalan.
Dukungan Dokter dan Pendidikan S1
Ramli hampir memutuskan berhenti kuliah karena keterbatasan biaya. Namun, dr. Tjuk Risantoso, Sp.OT yang mengoperasi tulang belakang Ramli menegurnya keras. Dokter Tjuk kemudian membantu membiayai kuliah dengan satu syarat, Ramli harus menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Ternyata Ramli mampu menyelesaikan studinya hanya terpaut beberapa bulan dari target yang diberikan. “Beliau bukan hanya menyelamatkan fisik saya, tapi juga masa depan saya,” kenang Ramli.
Tantangan Mencari Pekerjaan
Lulus S1 bukan berarti ia mudah mendapatkan pekerjaan. Ramli selalu jujur dalam isi lamaran bahwa dirinya adalah pengguna kursi roda dan memastikan hal tersebut tidak akan mengganggu profesionalitas. Nyatanya, butuh waktu delapan tahun bagi Ramli untuk mendapatkan pekerjaan.
Ia bekerja sebagai Site Engineer dan Desainer di CV. Tiga Pilar, Malang. Tugasnya memastikan rancangan benar-benar dapat terbangun. Pengalaman kerja memperkaya pemahamannya tentang hubungan antara desain, struktur, dan kebutuhan manusia. Ramli juga memulai karier sebagai dosen arsitektur di Universitas Ibrahimy, Situbondo.
Raih S3 dengan Beasiswa LPDP
Pada jenjang S2, Ramli mengambil program studi Arsitektur Lingkungan Binaan. Kini ia menempuh studi S3 jurusan Arsitektur di ITB. Ia merupakan penerima Beasiswa Penyandang Disabilitas dari LPDP. “Kalau tanpa Beasiswa dari LPDP mungkin akan sangat berat,” tutur Ramli.
Penelitiannya menuju gelar Doktor sekarang berfokus pada sistem struktur penahan gempa untuk bangunan bertingkat yang berkelanjutan. Baginya pendidikan adalah jalan yang membantunya bangkit. Dari proses belajar, ia menemukan kembali arah, harapan, dan keyakinan bahwa dirinya tetap mampu berkembang serta berkontribusi. “Kalau saya tidak sekolah, mungkin saya tidak punya kehidupan seperti sekarang. Pendidikan itu ikhtiar utama,” tuturnya.
Filosofi Hidup dan Dukungan Keluarga
Ramli memetik pelajaran bahwa semua orang punya keterbatasan. Ia menerima keterbatasan itu lebih dahulu, lalu menyesuaikan diri. Dalam kehidupan pribadi, Ramli memiliki istri bernama Sri Nursiani yang menjadi kekuatannya. Sejak masa kuliah, Sri setia mendampingi, membantu aktivitasnya dalam berbagai fase perjuangan sulit.
Informasi mengenai perjalanan inspiratif Syamsun Ramli ini disampaikan melalui situs resmi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Sabtu, 21 Februari 2026.
