PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk secara resmi menyatakan perubahan strategi bisnisnya, tidak lagi mengandalkan perang harga sebagai pembeda utama di industri telekomunikasi. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa fokus perusahaan kini beralih pada peningkatan kualitas layanan dan jaringan.
Pernyataan ini disampaikan Dian dalam wawancara program Naratama Kompas.com di kantor Telkom pada awal Februari 2026. Menurutnya, kompetisi tarif murah sudah tidak relevan di tengah kematangan industri telekomunikasi saat ini.
Strategi Baru Telkom: Tinggalkan Perang Harga
Dian Siswarini menjelaskan bahwa strategi bisnis telekomunikasi ke depan tidak lagi bertumpu pada persaingan harga. Ia menilai, pendekatan tersebut sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi menjadi faktor penentu daya saing.
“Kalau masih kompetisi harga, wah itu sudah so yesterday. Sekarang quality,” ujar Dian. Ia menambahkan bahwa cakupan layanan Telkom saat ini sudah sangat luas, mencapai sekitar 97 persen dari populasi.
Dengan jangkauan yang sudah merata, tantangan berikutnya bagi Telkom bukan lagi memperluas cakupan, melainkan meningkatkan kualitas jaringan dan layanan kepada para pelanggan. Hal ini menjadi bagian integral dari agenda transformasi Telkom 30 yang bertujuan meningkatkan nilai perusahaan dan memperkuat daya saing.
“Sekarang bukan lagi soal murah, tapi soal kualitas. Itu yang akan jadi competitive factor,” kata Dian, menekankan pentingnya diferensiasi layanan di pasar yang semakin matang.
Kualitas Jaringan sebagai “Hygiene Factor”
Dian Siswarini juga menegaskan bahwa kualitas jaringan merupakan faktor dasar yang tidak dapat ditawar dalam industri telekomunikasi. Menurutnya, jika jaringan bermasalah, seluruh layanan yang dibangun di atasnya akan terdampak secara signifikan.
“Kalau jaringan sudah jelek, mau apa pun di atasnya ambrol. Jadi network quality itu hygiene factor, tidak bisa ditawar,” jelas Dian. Peningkatan kualitas ini tidak hanya mencakup kekuatan dan stabilitas jaringan, tetapi juga pengalaman pelanggan secara menyeluruh.
Selain kualitas jaringan, Telkom juga memberikan perhatian serius pada kualitas layanan pelanggan, termasuk kecepatan respons terhadap gangguan dan efektivitas penyelesaian masalah. “Kalau ada masalah, customer service kita bagaimana? Kalau ada problem, kita tangani seperti apa?” tambahnya.
Inovasi Produk dan Konvergensi Layanan
Aspek lain yang menjadi fokus Telkom adalah inovasi produk dan relevansi konten yang disesuaikan dengan kebutuhan segmen pelanggan. Dian Siswarini menekankan pentingnya variasi konten agar sesuai dengan preferensi masing-masing segmen.
“Konten harus bervariasi sesuai dengan segmen masing-masing,” ujarnya. Untuk mendukung peningkatan kualitas layanan ini, Telkom mengandalkan jaringan fiber optik yang tersebar luas sebagai fondasi utama.
Infrastruktur fiber tersebut berfungsi menghubungkan Base Transceiver Station (BTS) dan menjadi tulang punggung bagi layanan konvergensi fixed-mobile (FMC). “BTS itu di-connect oleh fiber, kemudian solusinya kita berikan sebagai integrated offering ke customer,” kata Dian.
Melalui pendekatan ini, Telkom berupaya memastikan layanan mobile dan fixed broadband terintegrasi dengan kualitas yang konsisten, memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan.
Informasi lengkap mengenai strategi baru Telkom ini disampaikan melalui wawancara Direktur Utama Telkom Dian Siswarini dengan Kompas.com pada awal Februari 2026.
