Pisang, buah yang mudah ditemukan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari diet global, kini menghadapi ancaman serius kepunahan. Penyakit jamur Fusarium wilt of banana (FWB), atau dikenal sebagai penyakit Panama, terus menghantui perkebunan pisang di seluruh dunia. Namun, harapan baru muncul dari Australia setelah tim ilmuwan berhasil mengidentifikasi gen kunci ketahanan terhadap patogen mematikan ini.
Ancaman Penyakit Panama yang Mematikan
Penyakit Panama disebabkan oleh jamur yang menyerang akar tanaman pisang, menghambat aliran nutrisi, dan menyebabkan tanaman layu hingga mati. Patogen ini juga meninggalkan residu di tanah, memungkinkan infeksi berulang pada tanaman berikutnya. Sejarah mencatat keganasan penyakit ini, di mana varietas pisang populer Gros Michel praktis punah pada tahun 1950-an akibat serangan jamur serupa.
Ancaman ini kini menargetkan varietas Cavendish, pisang yang paling banyak dibudidayakan secara global. Strain Sub Tropical Race 4 (STR4) menjadi salah satu varian paling berbahaya yang menyerang pisang di wilayah subtropis, menimbulkan kerugian besar bagi petani dan industri.
Terobosan Genetik dari Australia
Pada tahun 2024, tim ilmuwan dari The University of Queensland, Australia, berhasil mengidentifikasi wilayah spesifik dalam genom pisang yang mengendalikan ketahanan terhadap strain STR4. Temuan signifikan ini dipublikasikan dalam jurnal Horticulture Research, membuka jalan bagi pengembangan varietas pisang baru yang lebih tahan penyakit.
Dr. Andrew Chen, ahli genetika dan penulis studi tersebut, menjelaskan bahwa Fusarium wilt adalah penyakit tanah yang sangat merusak. “Mengidentifikasi dan memanfaatkan ketahanan alami dari pisang liar adalah solusi jangka panjang dan berkelanjutan terhadap patogen ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa patogen ini melayukan dan membunuh tanaman inang serta meninggalkan residu di tanah untuk menginfeksi tanaman berikutnya.
Kunci Ketahanan Ada di Kromosom 5
Dalam penelitian yang memakan waktu lima tahun ini, tim menyilangkan pisang liar bernama Calcutta 4 dengan varietas pisang rentan dari subspesies lain. Tanaman hasil persilangan kemudian dipaparkan pada jamur STR4. Setelah membandingkan DNA tanaman yang mati dengan yang bertahan, hasilnya menunjukkan bahwa ketahanan terhadap STR4 pada pisang Calcutta 4 terletak di kromosom 5.
“Ini adalah temuan yang sangat signifikan; ini merupakan pembedahan genetik pertama terhadap ketahanan Race 4 dari subspesies liar ini,” kata Chen. Proses penelitian ini membutuhkan kesabaran, di mana setiap generasi hasil persilangan memerlukan waktu setidaknya 12 bulan untuk tumbuh sebelum dapat dipelajari.
Tantangan: Tahan Penyakit, Tapi Tak Enak Dimakan
Meskipun pisang liar Calcutta 4 memiliki ketahanan genetik yang penting, buahnya tidak cocok untuk dibudidayakan secara komersial karena kualitasnya yang tidak layak konsumsi. “Ia tidak menghasilkan buah yang enak untuk dimakan,” jelas tim peneliti.
Oleh karena itu, langkah selanjutnya adalah mengembangkan penanda molekuler untuk melacak sifat ketahanan tersebut secara efisien. Dengan teknologi ini, pemulia tanaman dapat menyaring bibit sejak dini, bahkan sebelum gejala penyakit muncul. “Ini akan mempercepat seleksi, mengurangi biaya, dan pada akhirnya diharapkan menghasilkan pisang yang enak dimakan, mudah dibudidayakan, serta terlindungi secara alami dari Fusarium wilt melalui genetikanya,” tambah Chen.
Dampak Ekonomi dan Ketahanan Pangan Global
Ancaman terhadap pisang bukan hanya soal buah favorit, tetapi juga menyangkut industri global bernilai sekitar 140 miliar dolar AS atau lebih dari Rp2.000 triliun. Pisang merupakan tanaman pangan terpenting keempat di dunia setelah gandum, beras, dan jagung. Sekitar 80 persen produksi pisang dikonsumsi secara lokal, dan lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia bergantung pada pisang untuk memenuhi 15 hingga 27 persen kebutuhan kalori harian mereka.
Mohammad Abu-Ghazaleh, Chairman dan CEO Fresh Del Monte Produce, menegaskan pentingnya upaya bersama untuk melindungi komoditas ini. “Melindunginya adalah tanggung jawab bersama—dan jika kita tidak bertindak secara kolektif untuk mendukung petani dan menstabilkan rantai pasok ini, kita berisiko melihat buah ini—dan mata pencaharian di baliknya—menghilang di depan mata kita,” ujarnya dalam laporan kinerja perusahaan Juli 2025.
Harapan di Tengah Krisis
Penemuan wilayah genetik ketahanan terhadap STR4 menjadi titik terang dalam upaya menyelamatkan pisang dari ancaman kepunahan, seperti yang pernah terjadi pada varietas Gros Michel. Dengan pendekatan berbasis genetika dan pemuliaan modern, ilmuwan berharap suatu hari nanti dunia akan memiliki varietas pisang yang tidak hanya lezat dan mudah dibudidayakan, tetapi juga secara alami kebal terhadap penyakit Panama.
Di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim, inovasi ilmiah seperti ini menunjukkan bahwa sains tetap menjadi garis pertahanan utama dalam menjaga keberlanjutan pangan dunia, termasuk untuk buah yang selama ini kita anggap biasa saja: pisang.
