Kisah inspiratif dari salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Sya’ban, kembali menjadi sorotan. Penyesalan mendalam yang diungkapkannya di detik-detik sakaratul maut memberikan pelajaran berharga bagi umat Muslim tentang pentingnya memaksimalkan setiap amal ibadah. Rasulullah SAW sendiri yang kemudian menjelaskan makna di balik tiga teriakan penyesalan Sya’ban.
Sosok Sya’ban dan Kebiasaannya yang Unik
Sya’ban, meski namanya tidak setenar Abu Bakar atau Umar bin Khatthab, dikenal memiliki kebiasaan istimewa sepanjang hidupnya. Ia selalu hadir di masjid sebelum shalat fardhu berjamaah dimulai, kemudian duduk di sudut masjid untuk beri’tikaf.
Kebiasaan Sya’ban memilih sudut masjid bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan tidak mengganggu jamaah lain yang sedang beribadah, menunjukkan kerendahan hati dan kepeduliannya terhadap sesama Muslim.
Detik-detik Wafatnya Sya’ban dan Pertanyaan Rasulullah SAW
Pada suatu pagi, Rasulullah SAW menyadari ketidakhadiran Sya’ban di tempat i’tikafnya sebelum shalat Subuh berjamaah. Khawatir akan kondisi sahabatnya, Rasulullah menunda shalat sejenak, namun Sya’ban tak kunjung terlihat.
Setelah shalat Subuh, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat mengenai keberadaan Sya’ban. Seorang sahabat kemudian menunjukkan lokasi rumah Sya’ban, dan rombongan Rasulullah segera berangkat untuk menjenguknya. Perjalanan menuju rumah Sya’ban cukup jauh, memakan waktu dari setelah Subuh hingga waktu dhuha.
Setibanya di rumah, istri Sya’ban memberitahukan kabar duka bahwa suaminya telah meninggal dunia tepat sebelum adzan Subuh. Dalam kesedihannya, sang istri juga menyampaikan kepada Rasulullah bahwa Sya’ban sempat berteriak tiga kali dengan kalimat berbeda sebelum wafat.
Tiga Penyesalan Sya’ban yang Dijelaskan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan secara rinci makna di balik tiga teriakan penyesalan Sya’ban. Saat menjelang sakaratul maut, Allah SWT memperlihatkan seluruh amal perbuatan Sya’ban beserta ganjaran yang akan diterimanya, sebuah tayangan yang hanya dapat disaksikan oleh Sya’ban sendiri.
1. “Aduh, mengapa tidak lebih jauh?”
Teriakan pertama ini muncul saat Sya’ban menyaksikan tayangan perjalanannya menuju masjid untuk shalat berjamaah setiap hari. Ia diperlihatkan ganjaran besar dari setiap langkah kakinya.
Penyesalan Sya’ban timbul karena ia berharap jarak rumahnya dengan masjid lebih jauh lagi. Dengan begitu, pahala yang akan ia peroleh dari setiap langkahnya tentu akan semakin banyak dan berlipat ganda.
2. “Aduh, mengapa tidak yang baru?”
Penyesalan kedua berkaitan dengan peristiwa di musim dingin. Sya’ban mengenakan baju baru di dalam dan baju jelek di luar saat menuju masjid, dengan tujuan agar baju baru tetap bersih untuk shalat.
Di tengah perjalanan, Sya’ban bertemu seseorang yang kedinginan. Tanpa ragu, ia melepaskan baju luarnya yang jelek untuk menyelimuti dan memapah orang tersebut ke masjid. Sya’ban melihat ganjaran dari perbuatannya, namun ia menyesal. Andaikan ia memberikan baju barunya, tentu pahala yang didapat akan jauh lebih besar.
3. “Aduh, mengapa tidak semuanya?”
Penyesalan terakhir terjadi saat Sya’ban hendak sarapan roti dan susu. Seorang pengemis datang meminta makan dan mengaku sudah tiga hari tidak makan.
Sya’ban yang iba kemudian membagi rotinya menjadi dua bagian sama besar dan susunya ke dalam dua gelas. Ia diperlihatkan ganjaran dari amal tersebut, namun ia menyesal. Seandainya ia memberikan seluruh sarapannya, pahalanya pasti akan jauh lebih besar lagi.
Kisah Sya’ban ini menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk senantiasa memaksimalkan setiap amal ibadah. Setiap kesempatan berbuat kebaikan adalah peluang untuk meraih pahala yang berlipat ganda, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.
Informasi mengenai kisah sahabat Nabi Sya’ban ini dikutip dari laman Kanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Riau, yang disampaikan oleh Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kantor Kemenag Bintan, Maida Lely Syam, dalam tausiyah ba’da Zuhur pada Senin, 25 Maret 2024.
