TikTok Perbarui Kebijakan Privasi, Soroti Pengumpulan Data Sensitif Pengguna AS dan Picu Protes Massal
Pengguna TikTok di Amerika Serikat (AS) secara serentak mulai menghapus akun mereka sebagai bentuk protes terhadap kebijakan baru platform. Gelombang penghapusan akun ini mencuat setelah TikTok memperbarui ketentuan layanan dan kebijakan privasi yang dinilai kurang transparan dan memungkinkan pengumpulan data sensitif pengguna tanpa opsi penolakan. Keputusan ini mendorong sebagian pengguna untuk mengambil langkah ekstrem demi keamanan data pribadi mereka.
Pembentukan Entitas Baru TikTok USDS Joint Venture LLC
Protes pengguna ini berakar dari pembentukan entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC. Entitas tersebut dibentuk dalam rangka mematuhi Perintah Eksekutif yang ditandatangani oleh mantan Presiden Donald Trump pada September 2025.
Dalam pembaruan yang diunggah pada 23 Januari lalu, TikTok menjelaskan bahwa entitas baru ini bertujuan agar lebih dari 200 juta warga dan 7,5 juta pelaku bisnis di AS tetap dapat menggunakan aplikasi tersebut. TikTok berkomitmen untuk beroperasi di bawah pengamanan ketat, mencakup perlindungan data pengguna, keamanan algoritma, moderasi konten, serta jaminan perangkat lunak bagi pengguna di Amerika.
“Mengamankan data pengguna AS, aplikasi, serta algoritma melalui langkah-langkah privasi data dan keamanan siber yang menyeluruh,” tulis TikTok dalam pernyataan resminya.
Perusahaan patungan yang mayoritas dimiliki oleh pihak AS itu juga menegaskan komitmen mereka dalam menjaga ekosistem konten dengan kebijakan yang lebih kuat, praktik moderasi yang ditingkatkan, serta laporan transparansi platform.
Kebijakan Privasi Baru Pemicu Reaksi Negatif
Meskipun diklaim memperkuat pengamanan data, pembaruan kebijakan ini justru memicu reaksi negatif dari sebagian pengguna. Menurut laporan video outlet media TIME, banyak pengguna TikTok di AS mengaku mendapati pembaruan ketentuan layanan dan kebijakan privasi baru saat membuka aplikasi pada Kamis pekan lalu.
Berdasarkan pengakuan mereka, pembaruan tersebut langsung berlaku tanpa ada opsi untuk menolak. Pengguna hanya diberi pilihan untuk menyetujui kebijakan baru atau berhenti menggunakan aplikasi, yang kemudian mendorong sebagian pengguna untuk menghapus akun dan aplikasi TikTok sepenuhnya.
Kekhawatiran pengguna semakin menguat setelah mencermati bagian rincian aturan (fine print) dalam kebijakan privasi terbaru TikTok. Pada bagian tersebut, TikTok menyatakan dapat mengumpulkan lebih banyak data penggunanya, termasuk informasi lokasi, baik berupa perkiraan maupun lokasi presisi, apabila pengguna mengaktifkan layanan lokasi di dalam aplikasi.
Selain itu, kebijakan privasi terbaru TikTok juga menyebut kemungkinan pengolahan informasi sensitif lainnya. Data tersebut mencakup status kewarganegaraan, orientasi seksual, serta informasi terkait identitas gender pengguna. Ketentuan ini disebut berbeda dari kebijakan TikTok sebelumnya, yang secara tegas menyatakan tidak mengumpulkan informasi sensitif semacam itu.
Gelombang Protes dan Penghapusan Akun Massal
Kombinasi kebijakan terkait pembaruan privasi serta ketiadaan opsi penolakan membuat sebagian pengguna akhirnya memilih meninggalkan dan menghapus aplikasi TikTok. Reaksi ini ramai disuarakan di media sosial, khususnya di platform Threads.
Beberapa pengguna secara terbuka mengumumkan penghapusan akun TikTok karena tidak lagi merasa nyaman. Pengguna Threads dengan akun @bookwormshayhudr, misalnya, menulis, “Saya menghapus akun TikTok saya. Saya tidak merasa itu bijak, juga tidak aman untuk tetap menggunakannya. Itu perjalanan yang menyenangkan, tapi bukan seperti ini.”
Pengguna lain, @awesomelybrie, ikut menyuarakan protes sembari membagikan tangkapan layar pemberitahuan pembaruan ketentuan layanan dan kebijakan TikTok. “Ini resmi. TikTok telah berpindah kepemilikan ke entitas korporasi AS. Jangan klik Setuju. Tutup aplikasinya. Ini akhir dari era itu,” tuturnya.
Nada yang lebih keras disampaikan oleh pengguna @barrettpall, yang meminta pengguna lain segera meninggalkan platform. “HAPUS TIKTOK. Kaki tangan Trump secara resmi telah membeli TikTok. Teman-teman, tidak sepadan untuk tetap berada di sana,” tulisnya, sebagaimana dihimpun dari Newsweek.
Informasi lengkap mengenai kebijakan privasi terbaru TikTok dan pembentukan entitas baru ini disampaikan melalui pernyataan resmi TikTok yang dirilis pada 23 Januari lalu dan laporan media seperti TIME serta Newsweek.