Islami

Uraikan Makna Mendalam Puasa Ramadhan: Panggilan Iman, Madrasah Kemanusiaan, dan Tiga Hal yang Tumbuh

Advertisement

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), KH Cholil Nafis, menjelaskan bahwa puasa Ramadhan merupakan panggilan iman yang istimewa. Menurutnya, ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah kemanusiaan yang melatih jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah.

KH Cholil Nafis menyampaikan hal ini dalam sebuah kultum, menyoroti bagaimana Allah SWT memanggil hamba-Nya yang beriman dengan frasa “Ya ayyuhalladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman). Panggilan ini, kata beliau, memiliki makna mendalam dan hanya akan direspons dengan lapang dada oleh mereka yang memiliki keimanan kuat.

Panggilan Iman yang Istimewa

Respons seseorang terhadap kewajiban puasa dapat menjadi indikator perkembangan imannya. Jika puasa terasa menyenangkan, menenangkan, dan mendalam kebahagiaannya, itu menandakan iman sedang tumbuh dan berkembang dalam diri.

Sebaliknya, bagi individu dengan iman yang lemah, puasa dapat terasa berat, waktu berjalan lambat, dan cenderung ingin segera berbuka. Kondisi ini menunjukkan adanya beban dalam menjalankan ibadah tersebut.

Madrasah Kemanusiaan dan Ibadah Personal

KH Cholil Nafis menguraikan puasa sebagai “madrasatun insaniyah” atau sekolah kemanusiaan, serta balai latihan jiwa. Melalui puasa, umat Muslim dilatih untuk membangun keintiman yang lebih dalam dengan Allah SWT.

Puasa juga merupakan ibadah yang sangat personal dan melatih kejujuran. Berbeda dengan salat, zakat, atau haji yang terlihat oleh orang lain, puasa dilakukan tanpa ada yang melihat secara lahiriah. Seseorang meninggalkan makan dan minum bukan karena ketiadaan, melainkan karena keimanan kepada Allah, tanpa diketahui orang lain.

Selain itu, puasa melatih kepedulian sosial. Dengan merasakan lapar dan dahaga, seseorang dapat memahami penderitaan saudara-saudara yang kekurangan. Ini menumbuhkan empati dan rasa kasih sayang.

Sejarah dan Keutamaan Puasa Ramadhan

Kewajiban puasa telah ada sejak zaman para nabi, seperti Nabi Adam, Nabi Daud yang berpuasa sehari dan berbuka sehari, serta Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim yang berpuasa pada hari-hari tertentu. Nabi Muhammad SAW sendiri sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, juga berpuasa ayyamul bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan).

Kemudian, Allah mensyariatkan puasa Ramadhan sebagai pelatihan besar selama satu bulan yang nilainya setara dengan satu tahun. Hal ini karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu ditambah enam hari di bulan Syawal, seakan-akan ia berpuasa setahun penuh.

Advertisement

Jika diterima oleh Allah, puasa dapat mengembalikan manusia kepada fitrahnya serta melahirkan kesehatan jasmani, kesehatan mental, dan kesehatan rohani. Tujuan utama puasa dalam Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah, diawali dengan panggilan iman.

Tiga Hal yang Tumbuh dari Puasa Orang Beriman

KH Cholil Nafis menyebutkan tiga hal utama yang tumbuh dalam diri orang yang berpuasa:

1. Syauq (Rindu kepada Allah)

Imam Al-Ghazali menjelaskan tingkatan puasa, dengan tingkatan tertinggi adalah puasanya orang-orang khusus (khawasul khawas). Mereka berpuasa dengan penuh kerinduan kepada Allah, hati dan pikirannya selalu terhubung kepada-Nya.

Tingkatan berikutnya adalah mereka yang berpuasa dengan meninggalkan makan, minum, dan maksiat, sekadar menjalankan syariat. Tingkatan paling bawah adalah yang hanya meninggalkan makan dan minum tanpa penghayatan iman. Umat Muslim diharapkan dapat mencapai derajat syauq atau rindu kepada Allah.

2. Tumbuhnya Nilai Kemanusiaan

Puasa menjadikan seseorang lebih lembut, ramah, dan penyayang. Perbuatan baik dilakukan bukan semata karena manusia, tetapi karena perintah Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sayangilah yang di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.”

3. Lahirnya Rasa Takut (Khauf) kepada Allah

Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk meninggalkan larangan dan melaksanakan perintah-Nya. Ini adalah rasa takut akan murka-Nya, namun di saat yang sama penuh harap kepada rahmat dan ampunan-Nya. Oleh karena itu, di bulan Ramadhan banyak dibaca doa: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah aku).

Sepuluh hari pertama Ramadhan merupakan fase turunnya rahmat, di mana umat Muslim membersihkan jiwa dan menyucikan hati menuju Allah Yang Maha Suci. Allah adalah Dzat yang baik dan mencintai kebaikan.

Informasi mengenai makna puasa Ramadhan ini disampaikan oleh KH Cholil Nafis melalui kultum yang dirilis pada Rabu, 25 Februari 2026.

Advertisement