Edukasi

Wamendikti Saintek Stella Christie: Kontribusi Penerima Beasiswa LPDP Tak Selalu Wajib di Tanah Air, Soroti Polemik Paspor Anak DS

Advertisement

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie menegaskan bahwa rasa terima kasih atau kontribusi penerima beasiswa pemerintah tidak selalu harus dilakukan di dalam negeri. Menurut Stella, kontribusi dapat diberikan di luar negeri, terutama jika penerima beasiswa berhasil menduduki posisi-posisi penting yang dapat membawa manfaat bagi negara asal. Pernyataan ini muncul di tengah polemik terkait salah satu alumni LPDP yang ramai diperbincangkan warganet.

Kontribusi Global dan Patriotisme Diaspora

Stella Christie mencontohkan kasus warga India yang sukses menduduki posisi tinggi di Silicon Valley, Amerika Serikat (AS), yang justru memberikan aliran investasi dan lapangan kerja ke negaranya. Ia juga membagikan pengalamannya sendiri selama bertahun-tahun di institusi terkemuka di AS dan Tiongkok.

“Selama bertahun-tahun berada di institusi terkemuka di Amerika Serikat dan Tiongkok, saya berupaya tetap berkontribusi bagi Indonesia: membimbing mahasiswa Indonesia di universitas AS dan Tiongkok, berbicara di komunitas di Indonesia, serta menjembatani kerja sama antara institusi Indonesia dan lembaga pendidikan tinggi dunia,” kata Stella dikutip dari Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Stella menambahkan bahwa ia selalu lantang mengajukan identitasnya sebagai orang Indonesia, yang menurutnya dapat memperkuat reputasi ilmuwan Indonesia di dunia. Ia juga menyoroti banyak ilmuwan diaspora Indonesia yang berdedikasi kuat untuk kembali ke Tanah Air atau membuka peluang bersama.

“Contoh-contoh baik ini perlu disorot. Prof Vivi Kashim di Tiongkok, Prof Sastia Putri di Jepang, Prof Haryadi di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk,” ujar Stella.

Untuk menumbuhkan rasa patriotisme, Stella menyarankan fokus pada pengembangan individu di Indonesia, bukan pada institusi. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia di rumah dan menanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak-anak.

“Di keluarga saya, bukan hanya anak saya yang diwajibkan berbahasa Indonesia, tetapi suami saya yang berasal dari Polandia pun diharuskan bisa Bahasa Indonesia,” ucapnya.

Beasiswa sebagai Utang Budi dan Amanah

Meskipun kontribusi bisa beragam bentuk, Stella menegaskan bahwa beasiswa yang diberikan oleh negara adalah utang budi bagi penerimanya. Ia pernah dikecam netizen karena mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemendikti Saintek bahwa beasiswa adalah utang.

Advertisement

“Namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi,” tegasnya.

Stella menilai polemik terkait beasiswa LPDP yang dialami alumni berinisial DS mencerminkan kegagalan moral pada tahap awal pendidikan kehidupan. Kejadian ini juga menunjukkan bahwa sebagian penerima beasiswa melihat beasiswa dari negara sebagai fasilitas, bukan amanah yang harus dijaga.

Solusi: Kepercayaan, Bukan Pembatasan Berlebihan

Stella Christie berpendapat bahwa jawaban atas persoalan ini bukanlah dengan memperketat sistem beasiswa melalui pembatasan berlapis. Pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis dan membuat penerima beasiswa kurang bersyukur.

“Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan, memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa,” tandas Stella.

Polemik Paspor Anak Alumni LPDP

Alumni atau awardee beasiswa LPDP berinisial DS menjadi sorotan warganet setelah memaparkan paspor anaknya yang telah resmi menjadi Warga Negara Inggris. Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, DS terlihat gembira anaknya telah resmi menjadi warga negara Inggris. Ia menyatakan bahwa cukup dirinya saja yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), dan anaknya tidak perlu. DS juga menilai perlu diperjuangkan paspor kuat untuk anaknya, yakni paspor Inggris, dibandingkan paspor Indonesia. Video tersebut menuai kontroversi mengingat DS dan suaminya, AP, menempuh pendidikan S2 dan S3 dengan biaya dari LPDP.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie yang dirilis pada Senin, 23 Februari 2026.

Advertisement