Warga Iran Ungkap Kengerian Protes: Anak 18 Tahun Tewas Ditembak, Jenazah Suami Ditebus Rp 100 Juta
Gelombang protes besar-besaran di Iran menyisakan kisah pilu dan ribuan korban jiwa. Menurut Humans Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, lebih dari 6.000 orang tewas akibat aksi demonstrasi tersebut. Setelah pembatasan internet dan komunikasi dilonggarkan baru-baru ini, suara masyarakat Iran mulai terdengar. Seorang produser NPR menghubungi beberapa warga di Iran pada Kamis (30/1/2026) untuk mendengarkan cerita mereka. Tiga perempuan akhirnya bersedia berbagi pengalaman, meski meminta identitasnya disembunyikan.
Kisah Pilu di Balik Protes Iran
Seorang konten kreator dari Karaj, kawasan pinggiran kota Teheran, menceritakan pengalamannya pada 8 Januari 2026. Ia turun ke jalan setelah mendengar ajakan putra mantan Shah Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi. Menurutnya, banyak masyarakat yang menyerukan slogan anti-rezim.
“Kami melihat begitu banyak orang. Ada orang-orang di sana bersama anak-anak kecil mereka, orang tua lanjut usia, seorang pria di kursi roda. Rasanya luar biasa,” ucapnya kepada NPR. Namun, situasi berubah drastis. Konten kreator itu membeberkan bahwa tetangganya yang berusia 18 tahun tewas tertembak oleh aparat keamanan. Peristiwa itu diikuti dengan meningkatnya tindakan pasukan pemerintah yang menembaki lebih banyak demonstran dalam beberapa hari berikutnya.
“Mereka selalu bersikap mematikan. Tetapi kali ini jauh lebih meluas dan lebih mengerikan karena mereka mendapat perintah untuk menembak langsung,” sebutnya.
Ancaman dan Kekerasan Aparat Keamanan
Kisah pilu juga dibagikan oleh seorang ibu rumah tangga pada periode yang sama. Ia mengatakan kepada NPR bahwa suaminya meninggalkan rumahnya di Karaj untuk bergabung dengan demonstrasi, namun tidak pernah kembali. Ibu rumah tangga itu kemudian pergi ke kamar mayat Teheran.
Di sana, ia diberitahu bahwa harus membayar lebih dari 6.000 dolar AS atau setara Rp 100 juta demi mendapatkan jenazah suaminya. Ibu rumah tangga itu juga mengatakan ia harus menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa suaminya adalah anggota pasukan paramiliter rezim, padahal nyatanya bukan.
“Mereka berkata, jika kamu menghubungi siapa pun atau menceritakan hal ini kepada siapa pun, kami akan membawa pergi anak-anak perempuanmu,” tutur ibu itu. Mereka mengklaim sangat ketakutan dan tidak berani meninggalkan rumah. “Saya mendengar tetangga-tetangga saya meneriakkan slogan pada malam hari dan kadang-kadang sebentar di jalan. Tetapi sayangnya, kami sudah tidak keluar rumah lagi,” tambahnya.
Dampak Ekonomi dan Kekecewaan Warga
Warga ketiga yang bercerita mengungkapkan bahwa di rumah pun rasanya tidak aman dalam kondisi ini. “Bahkan berada di dalam rumah pun tidak aman,” ucap seorang wanita yang dulunya bekerja di bidang penerbitan.
“Mereka membunuh orang di rumah mereka. Beberapa hari yang lalu, di gang saya, mereka mendorong seseorang ke bagasi mobil dan menculiknya. Tak seorang pun dari kami berani mengatakan apa pun karena saya telah melihat-mereka dengan mudah menembak. Saya tidak ingin mereka membunuh saya. Saya benar-benar tidak mau. Saya tidak ingin mereka menembak saya,” lanjutnya.
Perempuan itu juga mengingat-ingat bahwa dia pernah melihat seorang demonstran muda ditembak mati. “Aku melihat darah di jalan. Itu adalah seorang manusia yang ingin hidup, yang ingin meneriakkan hak-haknya,” katanya. “Teriakannya adalah satu-satunya yang dia miliki. Apakah ini jawaban atas tangisan, peluru? Mengapa tidak ada yang melakukan apa pun?” lanjutnya.
Dia menilai bahwa aksi protes besar-besaran yang berakar dari anjloknya perekonomian Iran, tidak mengubah apapun. “Nothing. Aksi protes hanya menyebabkan lebih banyak kematian. Mereka menembak kami dan membunuh semua pemuda. Harga-harga semakin tinggi dan kami semakin miskin,” pungkasnya.
Informasi lengkap mengenai kisah-kisah ini disampaikan melalui laporan NPR yang dirilis pada Kamis, 30 Januari 2026.