Teknologi

Warganet Keluhkan Harga SSD Melonjak Dua Kali Lipat, Industri AI Jadi Biang Kerok Utama Kenaikan

Advertisement

Warganet Indonesia ramai mengeluhkan lonjakan harga Solid State Drive (SSD) yang drastis, bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan harga ini terjadi di tengah krisis memori global yang dipicu oleh tingginya permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI).

Pusat data dan server AI disebut menjadi penyebab utama tersedotnya pasokan chip NAND flash, komponen krusial dalam pembuatan SSD, sehingga berdampak langsung pada pasar ritel.

Lonjakan Harga SSD yang Mengejutkan Konsumen

Pantauan di sejumlah marketplace pada Rabu, 25 Februari 2026, menunjukkan kenaikan harga yang signifikan. Sebagai contoh, Samsung SSD T7 Shield External Portable 1 TB yang pada tahun 2024 dan 2025 stabil di kisaran Rp 1,725 juta, kini dibanderol sekitar Rp 3,472 juta.

Varian 2 TB juga mengalami lonjakan serupa. Jika pada tahun 2025 harganya sekitar Rp 2,855 juta, kini produk yang sama dijual hingga Rp 5 jutaan. Kondisi ini membuat banyak konsumen menunda pembelian.

Keluhan serupa membanjiri media sosial Threads. Pengguna @lunavtsa menulis, “Wah iya lagi. Emang lagi naik semua kayaknya dari RAM, SSD, dll. Juli 2025 beli Samsung T7 harga 1 jt, tadi cek udah 2,9”.

Akun @ameliachalim juga mengeluhkan harga SanDisk yang melonjak dari Rp 2,8 juta pada Juli 2025 menjadi Rp 5,4 juta pada Februari 2026. Sementara itu, @asyakeys membandingkan kenaikan harga SSD dengan emas, “Kenapa melonjak tinggi ngalahin Antam ya. Akhir tahun lalu merk Netac 2 TB 2,7 jt, sekarang 5,1 jt. Menyesal ga beli (lebih awal).”

Pengguna @bbalddii awalnya tidak percaya, namun setelah mengecek sendiri, ia langsung membenarkan lonjakan harga tersebut.

Dampak Krisis Memori Global dan Industri AI

Sejumlah warganet mencoba menjelaskan penyebab kenaikan ini. Akun @arbytedjolaksono menyebutkan bahwa produsen memori mengurangi produksi untuk menjaga stabilitas harga, sementara permintaan dari server dan industri AI melonjak tajam.

Advertisement

Faktor lain yang memperparah kondisi adalah harga chip NAND yang mahal serta pengaruh kurs dolar AS. Situasi ini sejalan dengan pernyataan petinggi Kioxia, salah satu produsen memori flash terbesar di dunia.

Petinggi Kioxia secara blak-blakan menyatakan bahwa era SSD murah, khususnya kapasitas 1 TB yang sempat menjadi standar baru bagi konsumen, sudah berlalu. Kebutuhan tinggi dari industri AI menjadi biang keladi kelangkaan ini.

Prediksi Kioxia: Era SSD Murah Telah Berakhir

Pusat data yang menjadi otak berbagai layanan AI membutuhkan kapasitas penyimpanan masif dan cepat. Korporasi raksasa ini memborong pasokan chip memori dalam jumlah besar, menyisakan sedikit untuk pasar konsumen ritel.

Akibatnya, hukum ekonomi dasar berlaku: ketika permintaan meroket sementara pasokan terkunci, harga pasti melambung. Kioxia mewanti-wanti bahwa konsumen harus mulai terbiasa dengan harga SSD yang lebih tinggi.

Harga SSD kapasitas 1 TB, yang sebelumnya sempat menyentuh titik terendah dan menjadi primadona bagi perakit PC, kini dipastikan akan merangkak naik dan sulit untuk turun kembali dalam waktu dekat.

Informasi lengkap mengenai dampak krisis memori global terhadap harga SSD ini disampaikan melalui pernyataan resmi petinggi Kioxia dan pantauan di berbagai marketplace pada Rabu, 25 Februari 2026.

Advertisement