Waspada! Pakar Ungkap Bahaya Tersembunyi Mobil Listrik Saat Terjang Banjir, Bukan Hanya Baterai
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengingatkan para pemilik mobil listrik untuk tidak sembarangan menerobos banjir. Meskipun baterai utama kendaraan listrik (EV) dirancang kedap air, risiko kerusakan serius pada sistem kendaraan lainnya tetap mengintai.
Bahaya Tersembunyi di Balik Klaim Kedap Air
Yannes menjelaskan, meskipun baterai utama EV telah dirancang kedap air dengan standar IP67 atau IP68, hal itu tidak berarti seluruh sistem kendaraan aman dari paparan air banjir. “IP67 itu jaminan darurat, bukan jaminan kendaraan bisa digunakan semaunya untuk menerobos banjir,” kata Yannes pada Selasa, 27 Januari 2026, dikutip dari Antara.
Menurutnya, risiko terbesar justru bukan berasal dari baterai tegangan tinggi, melainkan dari sistem kelistrikan 12 volt serta ratusan sensor kecil yang berfungsi sebagai “otak” pengoperasian mobil. Komponen seperti electronic control unit (ECU), modul ABS, hingga sensor parkir tersebar di berbagai titik kendaraan dan umumnya tidak memiliki perlindungan setangguh battery pack.
Ancaman Korosi dan Kerusakan Jangka Panjang
Air banjir yang keruh atau air rob yang mengandung garam, lanjut Yannes, dapat memicu korosi secara perlahan pada komponen elektronik. “Gejalanya bisa baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian, seperti error sensor, fitur ADAS mendadak nonaktif, atau muncul alarm palsu,” ujarnya.
Kerusakan akibat korosi tersebut umumnya tidak bisa diperbaiki dan harus diatasi dengan penggantian modul elektronik. Selain harganya mahal dan stok yang sering terbatas, penggantian modul juga membutuhkan proses kalibrasi ulang sistem, termasuk radar dan kamera pada fitur keselamatan.
Jika kalibrasi tidak dilakukan secara presisi, fitur keselamatan seperti pengereman darurat atau lane keep assist justru berpotensi membahayakan pengemudi. Hal ini menekankan pentingnya penanganan profesional pascabanjir.
Perlindungan Baterai dan Batasnya
Terkait baterai, Yannes menegaskan komponen ini memang paling terlindungi karena diawasi oleh battery management system (BMS). Sistem tersebut akan memutus aliran listrik tegangan tinggi secara otomatis jika terdeteksi kebocoran arus.
Namun, perlindungan ini tetap memiliki batas, terutama jika kendaraan terendam dalam waktu lama atau terpapar tekanan air yang ekstrem. “Jika terjadi rembesan kecil yang memicu korosi internal, risikonya bisa berujung pada kegagalan mendadak atau thermal runaway. Biaya penggantian battery pack bahkan bisa mencapai 40–50 persen dari harga mobil baru,” kata Yannes.
Langkah Pencegahan dan Pentingnya Inspeksi Profesional
Oleh karena itu, Yannes menyarankan pemilik mobil listrik untuk lebih berhati-hati selama musim hujan dan banjir. Beberapa langkah pencegahan yang perlu diperhatikan antara lain memastikan port pengisian daya selalu kering, rutin membersihkan kolong mobil dari lumpur dan garam, memeriksa kondisi karet penyekat pintu, serta menjaga kebersihan kamera dan sensor kendaraan.
“Inspeksi profesional pascabanjir sangat penting. Risiko kerusakan tersembunyi dan biaya perbaikannya jauh lebih besar dibandingkan kenikmatan sesaat saat nekat menerobos banjir,” jelas Yannes.
Informasi lengkap mengenai potensi risiko mobil listrik saat menerjang banjir ini disampaikan melalui pernyataan pakar otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, yang dirilis pada 27 Januari 2026.