Berita

Waspadai Leukemia, Kanker Anak Terbanyak di Indonesia: Dokter Ungkap Gejala Kunci dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini

Leukemia menjadi jenis kanker yang paling banyak diidap oleh anak-anak, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Fakta ini diungkapkan oleh dokter spesialis anak konsultan hematologi-onkologi, dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A, Subsp. HO, MHA, dalam sebuah siniar yang diselenggarakan menyambut Hari Kanker Anak bersama Tribun Health di Kantor Tribunnews Solo pada Jumat (30/1/2026).

“Di Indonesia peringkat pertama, bahkan di mana pun, leukemia tetap menjadi kanker anak nomor satu,” kata dr. Edi Setiawan Tehuteru, yang juga merupakan penulis buku Waspada & Kenali Kanker pada Anak Sejak Dini.

Prevalensi Leukemia pada Anak

Pernyataan dr. Edi diperkuat oleh dokter spesialis anak konsultan, dr. Muhammad Riza, Sp.A(K), M.Kes, yang telah lama menangani pasien kanker anak dan merupakan seorang penyintas. Dr. Riza menyebutkan bahwa sekitar 80 persen dari seluruh kasus kanker anak yang ditanganinya adalah leukemia atau kanker darah.

Di wilayah Solo, leukemia juga mendominasi jenis kanker anak yang ditemukan. “Persentase paling tinggi di Solo adalah kanker darah atau leukemia. Yang kedua kanker tulang, kemungkinan karena ada rujukan dari RS Ortopedi. Ketiga kanker kelenjar getah bening,” ujar dr. Riza.

Mengenali Gejala Awal Leukemia

Mengingat tingginya prevalensi leukemia pada anak, penting bagi orang tua untuk mengetahui gejala awal agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Dr. Edi Setiawan Tehuteru mengungkapkan beberapa gejala utama leukemia pada anak, antara lain kondisi pucat, demam yang berlangsung lama dan sulit disembuhkan, serta perdarahan tidak wajar.

“Gejalanya antara lain pucat, demam yang susah sembuh, dan perdarahan. Kalau ditemukan satu atau dua dari gejala ini, kita sudah bisa mencurigai kemungkinan leukemia,” jelas dr. Edi. Ia menyarankan agar anak segera dibawa ke dokter untuk konfirmasi jika ditemukan satu atau dua dari tiga gejala tersebut.

Menurut dr. Edi, pemeriksaan sejak dini merupakan langkah krusial, terlepas dari hasil diagnosisnya. Deteksi dan penanganan pada tahap awal akan sangat memengaruhi peluang kesembuhan anak. “Kalau ditemukan sejak dini potensi sembuh akan jauh lebih besar. Berbeda ketika baru ditemukan saat sudah stadium tinggi,” pungkasnya.

Karakteristik Kanker Anak: Penyebab dan Pencegahan

Dr. Edi menekankan bahwa kanker pada anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Hingga kini, penyebab kanker pada anak belum dapat dipastikan secara pasti. “Kita mesti tahu 3 fakta dasar tentang kanker anak. Fakta dasar pertama, kita tidak tahu apa penyebabnya,” kata dr. Edi.

Ia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang diduga berperan, seperti faktor genetik, paparan zat kimia, infeksi, dan radiasi. Namun, faktor-faktor ini tidak dapat ditetapkan sebagai penyebab utama secara langsung. “Ini berbeda dengan orang dewasa. Pada dewasa, kita tahu penyebabnya, misalnya merokok menyebabkan kanker paru atau pola makan buruk berisiko memicu kanker usus besar. Pada anak, penyebabnya tidak diketahui,” terang dr. Edi.

Selain itu, kanker pada anak juga tidak dapat dicegah. Langkah pencegahan yang lazim diterapkan pada kanker dewasa tidak berlaku untuk kasus kanker anak. Dr. Edi menegaskan bahwa sebaik apa pun upaya orang tua dalam menjaga kesehatan anak, risiko kanker tetap bisa terjadi. “Itulah mengapa kami tidak pernah membuat seminar pencegahan kanker pada anak, karena memang tidak bisa dicegah,” ujarnya.

Dari berbagai jenis kanker yang dapat menyerang anak, hanya retinoblastoma atau kanker pada bola mata yang memungkinkan untuk dideteksi sejak dini. Hal ini berbeda dengan kanker pada orang dewasa yang memiliki beragam metode deteksi dini. “Kalau pada anak, deteksi dini hanya bisa dilakukan pada satu jenis kanker saja, yaitu retinoblastoma,” jelas dr. Edi.

Dengan keterbatasan tersebut, pendekatan utama dalam penanganan kanker pada anak lebih difokuskan pada kewaspadaan terhadap gejala. Dr. Edi menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengenali tanda-tanda awal kanker pada anak agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. “Itulah mengapa kita tidak pernah membuat seminar penyebab kanker pada anak, tapi apa? Kewaspadaan. Mewaspadai gejala kanker pada anak. Sebab kalau deteksi dini pada anak, kita akan cuma membahas satu jenis kanker saja,” pungkasnya.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui siniar menyambut Hari Kanker Anak bersama Tribun Health di Kantor Tribunnews Solo pada Jumat (30/1/2026).