Hiburan

Aurelie Moeremans Ungkap Kisah Kelam Child Grooming dalam Buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth

Aurelie Moeremans, aktris dan penyanyi kelahiran Belgia, menjadi sorotan publik setelah merilis memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Buku tersebut mengungkap pengalaman traumatisnya sebagai korban child grooming di masa remaja guna mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perlindungan anak.

Profil dan Perjalanan Karier Aurelie Moeremans

Aurelie lahir di Brussel, Belgia, pada 8 Agustus 1993. Ia memulai kariernya di industri hiburan Indonesia setelah memenangkan kompetisi modeling di Bandung. Sejak saat itu, ia aktif membintangi berbagai judul sinetron, FTV, dan film layar lebar yang melambungkan namanya di tanah air.

Beberapa karya film populer yang pernah dibintanginya meliputi Foxtrot Six, Story of Kale: When Someone’s in Love, dan Gas Kuy. Selain berakting, Aurelie juga merambah dunia musik dengan merilis single perdana berjudul “Here We Are” dan berkolaborasi dengan Ardhito Pramono dalam lagu “I Just Couldn’t Save You Tonight”.

Memoar Broken Strings dan Misi Edukasi Publik

Melalui buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, Aurelie membagikan fragmen masa lalunya yang selama ini tidak diketahui publik. Penulisan memoar ini bertujuan untuk memberikan edukasi serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya eksploitasi dan manipulasi terhadap anak di bawah umur.

Aurelie menegaskan bahwa pengungkapan kisah ini bukan bertujuan untuk mencari sensasi, melainkan sebagai bentuk penyadaran. Ia berharap ceritanya dapat membantu para penyintas lain agar tidak merasa sendirian dan mendorong diskusi lebih luas mengenai sistem perlindungan anak di Indonesia.

Respons Positif dan Dukungan dari KPAI

Keberanian Aurelie dalam bersuara mendapat perhatian positif dari berbagai pihak, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pihak KPAI menilai langkah Aurelie melalui memoar tersebut dapat menolong masyarakat dalam memahami pola-pola kekerasan serta dampak trauma pada anak.

Sejauh ini, pengungkapan isu tersebut tidak memberikan dampak negatif pada karier profesionalnya. Publik justru memberikan apresiasi atas kontribusi sosialnya sebagai penyintas yang berani membuka diskusi mengenai trauma masa lalu demi kepentingan publik yang lebih luas.

Informasi mengenai memoar dan pernyataan Aurelie Moeremans tersebut dirangkum berdasarkan rilis resmi buku dan pernyataan yang disampaikan melalui kanal komunikasi pribadinya.