Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana pemerintah untuk menghentikan ekspor timah mentah guna mendorong transformasi ekonomi nasional melalui program hilirisasi. Langkah ini diambil menyusul keberhasilan larangan ekspor nikel yang mampu meningkatkan nilai ekspor hingga sepuluh kali lipat dalam kurun waktu lima tahun.
Keberhasilan Hilirisasi Nikel Jadi Acuan
Bahlil menjelaskan bahwa kebijakan hilirisasi merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mencontohkan larangan ekspor bijih nikel pada periode 2018–2019 yang membuahkan hasil signifikan pada tahun-tahun berikutnya.
“Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya 3,3 miliar dollar AS, dan begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai 34 miliar dollar AS. 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun,” ujar Bahlil dalam keterangan resmi pada Senin (16/2/2026).
Perluasan Larangan Ekspor Komoditas Mentah
Pemerintah kini tengah mengkaji penyetopan ekspor untuk beberapa komoditas strategis lainnya, termasuk timah. Bahlil menegaskan bahwa ekspor barang mentah harus segera digantikan dengan produk hasil industri hilirisasi untuk memperkuat posisi ekonomi Indonesia di pasar global.
Ia juga mengingatkan bahwa tahun lalu pemerintah telah melarang ekspor bauksit. “Tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” lanjutnya.
Proyek Strategis Nasional dan Peran Perbankan
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional tahun 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp 618 triliun. Sektor-sektor yang menjadi fokus meliputi hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga pembangunan kilang minyak.
Bahlil turut mengundang investor nasional dan sektor perbankan untuk terlibat aktif dalam pendanaan proyek strategis ini. Menurutnya, produk hilirisasi ditujukan untuk memenuhi pasar domestik sebagai substitusi impor.
“Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri,” tegas Bahlil.
Proyeksi Ekonomi dan Lapangan Kerja hingga 2040
Hingga tahun 2040, pelaksanaan hilirisasi di berbagai sektor diproyeksikan mampu menarik investasi hingga 618 miliar dollar AS. Berikut adalah rincian proyeksi dampak ekonomi dari program hilirisasi nasional:
- Investasi subsektor mineral dan batu bara (minerba): 498,4 miliar dollar AS.
- Investasi sektor minyak dan gas bumi: 68,3 miliar dollar AS.
- Potensi nilai ekspor: 857,9 miliar dollar AS.
- Tambahan Produk Domestik Bruto (PDB): 235,9 miliar dollar AS.
- Penciptaan lapangan kerja: Lebih dari 3 juta orang.
Informasi mengenai rencana kebijakan hilirisasi ini disampaikan melalui pernyataan resmi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang dirilis pada Senin, 16 Februari 2026.
