Finansial

DPR Ungkap Urgensi Tata Kelola Nikel Morowali Guna Jaga Daya Saing Hilirisasi Global Indonesia

Advertisement

Anggota Komisi XII DPR RI, Beniyanto Tamoreka, menekankan pentingnya penguatan tata kelola industri nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, untuk menjaga daya saing hilirisasi nasional. Langkah ini dinilai krusial mengingat posisi Indonesia yang semakin signifikan dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Pusat Industri Nikel Global di Morowali

Beniyanto menjelaskan bahwa kawasan industri di Morowali telah bertransformasi menjadi salah satu pusat pengolahan nikel terbesar di tingkat global. Ia menegaskan perlunya negara memastikan ekosistem industri tetap kompetitif dan memberikan manfaat luas bagi ekonomi nasional.

“Morowali telah berkembang menjadi salah satu pusat industri nikel terbesar di dunia. Karena itu, negara perlu memastikan bahwa ekosistem industri yang terbentuk tetap terbuka, kompetitif, dan memberikan manfaat luas bagi perekonomian nasional maupun daerah,” ujar Beniyanto dalam keterangan pers, Kamis (19/2/2026).

Urgensi Tata Kelola dan Keberlanjutan

Hilirisasi nikel merupakan bagian dari strategi transformasi ekonomi dan transisi energi nasional. Namun, Beniyanto mengingatkan bahwa pembangunan smelter harus dibarengi dengan prinsip tata kelola transparan serta kepastian regulasi bagi pelaku usaha.

Komisi XII DPR RI berkomitmen menjalankan fungsi pengawasan agar kebijakan hilirisasi tetap seimbang. Fokus utama mencakup pertumbuhan industri, perlindungan lingkungan, hingga peningkatan standar keberlanjutan agar tidak hanya mengejar volume produksi semata.

Advertisement

Realisasi Investasi Hilirisasi Capai Rp 152,7 Triliun

Di sisi lain, sektor hilirisasi mencatatkan pertumbuhan positif dengan realisasi investasi mencapai Rp 152,7 triliun pada kuartal IV 2025. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 13,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyebut sektor mineral sebagai kontributor utama dengan nilai Rp 81,6 triliun. Komoditas nikel mendominasi capaian tersebut dengan kontribusi sebesar Rp 49,2 triliun.

KomoditasNilai Investasi (Triliun Rp)
Nikel49,2
Bauksit9,9
Besi Baja8,2
Timah6,3
Tembaga4,6

Informasi mengenai penguatan tata kelola dan capaian investasi ini dihimpun dari keterangan resmi Komisi XII DPR RI serta laporan realisasi investasi Kementerian Investasi/BKPM yang dirilis secara berkala.

Advertisement